Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

Dari Cinta Timbul Hidayah

Dari Cinta Timbul Hidayah
Pernahkah anda mendengar ungkapan pepatah jawa “witin tresno jalaran soko kulino”? Ya, kalimat itu tepat sekali. Maksudnya bahwa cinta itu terbangun karena terbiasa bertemu, bercakap-cakap dan akrab). Bila kita amati semua orang yang menjalin cinta kasih didunia ini berawal dari sana. Tak kenal, kemudian kenal, sering ketemu, saling memahami dan merasa ada kecocokan, maka timbullah perasaan suka. Ada sebuah cerita tentang seorang laki-laki yang bernama Syafi’i. Orangnya bertubuh kekar, tinggi dan lumayan tampan. Bila dilihat dari namanya tentu anda menyangka bahwa dia adalah seorang baik-baik atau mungkin bayangan anda adalah seorang ustad. Tetapi kenyataannya tidak. Syafi’i adalah seorang tukang copet yang selalu beroperasi dikawasan Kenjeran Surabaya. Hari-harinya hanya diisi dengan kegiatan mencari uang haram, berjudi dan mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Akibat dari kebiasaan buruknya itu dia harus keluar masuk penjara. Meskipun begitu tidaklah membuatnya jera atau berhenti dari pekerjaannya menjadi tukang copet. Suatu hari ada seorang gadis cantik berjilbab sambil membawa tas yang berjalan melintasi sebuah trotoar tempat Syafi’i mangkal untuk mencari mangsa. Melihat gadis itu, Syafi’i segera membuntutinya dari belakang hingga tepat pada tempat yang nggak begitu ramai dan tak ada yang memperhatikan kearahnya, seketika Syafi’i menyabet tas yang berada dipundak lengan kiri gadis tersebut dan membawa lari sekencang-kencangnya. Gadis itu pun meronta-ronta copet...copet..copet, akan tetapi Syafi’i sudah melesat jauh tak terkejar lagi. Sungguh girang hati Syafi’i karena berhasil lolos dengan membawa sebuah tas copetannya, sambil ngos-ngosaan dibukalah tas itu berharap didalamnya terdapat uang yang banyak, ternyata isinya bukanlah uang melainkan sebuah buku diary, satu buah kitab suci Al-Qur’an berukuran kecil dan satu tongkat penunjuk. Gadis yang dicopet tadi adalah seorang guru ngaji diTaman Pendidikan Al-Qur’an. Melihat bahwa tas hasil copetannya tidak berisi uang, dia menghela nafas panjang sambil merebahkan tubuhnya yang seakan tak percaya, masak gadis secantik itu didalam tasnya tak ada isinya uang. Syafi’i makin penasaran dan berniat lain kali jika gadis itu lewat lagi dia akan mencopetnya lagi. Tak hayal, dia melihat gadis itu lagi sedang berangkat melakukan tugasnya mengajar mengaji, si Syafi’i pun kembali diam-diam membuntutinya dari belakang. Tapi kali ini hari yang na’as baginya, ketika dia menyabet tas gadis itu, dengan sergap ditahannya tangan Syafi’i. Gadis itu berkata : “ hai mas, jangan lancang ya, apa si yang kamu mau? Kamu butuh uang? Sambil membuka tasnya dikeluarkan uang seratus ribu “nih kamu ambil. Ingat kamu masih muda, masih kuat bekerja, tunjukkan bahwa kamu bukan orang lemah. Kalau nggak bisa bekerja jangan jadi pencopet, lebih baik langsung minta dengan cara baik-baik”. Gadis itu pun melanjutkan perjalanannya. Hari demi hari syafi’i tak bisa tidur memikirkan ucapan gadis tadi, akhirnya dia memutuskan untuk mengembalikan uang itu kerumahnya. Didalam tas yang ia copet tempo hari terdapat alamat rumahnya, tanpa pikir panjang ia mendatangi rumah gadis itu dengan niat mengembalikan uang dan tas yang dirampasnya sekaligus minta maaf. Sampai didepan rumahnya dia mengetuk pintu “ assalamu’alaikum” Wa’alaikum salam. Jawab gadis tersebut. Ketika pintu rumahnya dibuka gadis itu pun kaget “ oh kamu kan yang kemarin mencopet tas saya”ada apa kamu kesini? Dengan tertunduk malu syafi’i menjawab: saya kesini bermaksud meminta maaf atas prilaku saya terhadap mbak. Saya menyesal dan mengaku salah mbak. Maukah kamu memaafkanku? Ini uang dan tas kamu, semuanya masih utuh. Gadis itu pun mempersilahkan masuk, kenapa uangnya juga dikembalikan, saya ihlas kog, ambil saja barangkali kamu membutuhkan. Siapa namamu? Nama saya Syafi’i. Gadis itu berkata:” jujur saja mas, saya kagum dengan keberanianmu mengembalikan tas yang sudah kamu copet. Tapi sudah lah, saya maafkan kesalahanmu. Nama saya Latifah. Sambil memperkenalkan diri, Latifah memberi saran kepada Syafi’i untuk meninggalkan pekerjaannya menjadi pencopet. “ Mas, maaf ya sebelumnya, saya sarankan, lebih baik mas cari pekerjaan lain, gaji kecil tidak apa-apa yang penting halal”. Dengan menunduk Syafi’i menjawab: “ iya mbak. Latifah melanjutkan perkataannya: “terus sekarang ini kamu tinggal dimana? Syafi’i menjawab: “saya sudah tidak punya tempat tinggal, karena sudah habis saya jual untuk bermain judi, saya jadi orang jalanan mbak, kedua orang tuaku pun sudah meninggal lima tahun yang lalu. Maaf mbak, sudah siang, saya mohon pamit, sekali lagi terima kasih karena sudah berkenan memaafkan kesalahan saya. Assalamu’alaikum. syafi’i pun pergi dari rumahnya latifah. Tiga hari kemudian, Latifah melewati jalan dimana ia dicopet, tetapi latifah sudah tak melihat syafi’i mangkal di trotoar itu lagi. Mungkin karena saran darinya, dia meninggalkan pekerjaanya jadi pencopet. Sudah beberapa minggu, setiap Latifah lewat jalan itu tak pernah melihat syaf’i. Ternyata dia memang benar-benar sudah tak mencopet dan beralih pekerjaan menjadi tukang becak. Suatu hari Latifah pergi kepasar berbelanja keperluan dapur, karena kebetulan ibunya juga sudah tua, dan ayahnya juga sudah meninggal, jadi dia sendiri yang mencukupi kebutuhan keluarga. Setelah selesai berbelanja satu keranjang penuh, Latifah berniat naik becak karena barang belanjaanya lumayan berat. Didepan pintu keluar pasar terdapat tukang becak yang sedang menyandarkan kepalanya sambil menunggu penumpang. Latifah menghampirinya, “becak pak”, tukang becak bergegas bangun. Ketika dilihatnya “lho kog kamu”, keduanya sama-sama kaget. Latifah pun memulai pembicaraan “apa kabarnya mas, sudah lama jadi tukang becak?” Syafi’i menjawab “baru dua minggu mbak, yaa, saya sadar mbak selama ini saya berada pada jalan yang nggak bener, ini semua karena nasihat mbak lho” latifah menjawab “ ahh kamu bisa saja mas”. sambil mengayuh laju becaknya, syafi’i pun ngobrol banyak sama latifah. Oh iya mbak, setiap mbak mengajar ngaji kog jalan kaki saja, gimana kalau saya yang mengantarkan?, latifah menjawab: “terima kasih mas, saya biasa jalan kaki, nanti malah ngrepotin”. Nggak mbak... nggak ngrepotin. Akhirnya sampai pula didepan rumahnya Latifah. Sambil menurunkan barang belanjaannya, latifah menanyakan ongkos becaknya, “berapa mas ongkosnya?, sudah mbak nggak usah, hitung-hitung sebagai penebus rasa bersalah saya dulu, “jangan gitu mas, kalau pean gini ya nggak dapat uang” sahut latifah. Dengan malu-malu syafi’i menerima uang dari latifah. Sore harinya sewaktu Latifah hendak berangkat mengajar ngaji, dijemput syafi’i dan diantarkannya hingga tempat dimana ia mengajar, dan begitu seterusnya. saking seringnya bertemu dan bercakap-cakap itu, membuat hati syafi’i timbul rasa suka terhadap latifah, hanya saja dia tak berani mengungkapkannya, karena dia sadar bahwa latifah seorang guru ngaji sedangkan dirinya mantan pencopet. Tetapi dari perasaan cintanya kepada latifah, ia semakin tergugah untuk merubah dirinya menjadi orang yang baik, dia taubat dan memilih jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Niat taubatnya itu betul-betul dilaksanakan, terbukti ia rajin sholat kemasjid, rajin puasa sunnah, dan tak tanggung-tanggung dia seringnya berbagi makanan dengan anak-anak yatim, meskipun sebenarnya hasil dari menarik becak tidaklah seberapa, namun dia ihlas berbagi dengan mereka-mereka yang senasib dengannya. Hal itu pun mendapat respon yang positif dari latifah, dengan diberinya motivasi agar syafi’i dapat menikmati dunia barunya dengan berbuat kebajikan. Melihat kesungguhan syafi’i dalam hijrah menuju jalan yang diridhoi Allah SWT, akhirnya latifah pun tersentuh hati dan menyukainya, sehingga bersatulah cinta dua muda-mudi yang berbeda latar belakangnya itu. Subhanallah...itulah Hidayah Allah SWT. Berawal dari cinta berubah menjadi Hidayah. Inilah jalan Allah, bila Dia sudah menghendaki, maka tak ada satupun yang mampu menolak atau menghadangnya.

Kamis, 29 Agustus 2013

Menjadi Sutradara Diri Sendiri



Dunia laksana panggung sandiwara. Artinya bahwa segala sesuatu yang dipentaskan dalam pangung itu akan ada endingnya. Tidak ada pertunjukan yang abadi berlama-lama tampil diatas panggung kehormatannya, karena bisa jadi penontonnya akan bosan melihatnya. Ibarat sebuah sinetron, bila ceritanya terlalu dilebar-lebarkan dari skenario awal, maka akan melibatkan banyak pemeran dan tentunya sangat menjenuhkan. Akibatnya banyak sinetron yang ditinggalkan penggemar dan tamat ditenggah jalan tanpa membawa kesan dan pesan yang begitu berarti. Begitu pula dengan kehidupan dunia ini. tidak ada yang abadi, semuanya ada waktu berakhirnya. Karena kehidupan dunia ini ada garis finishnya, haruskah kita nanti melewati garis finish itu dengan tanpa meninggalkan kesan apa-apa? Itulah yang perlu kita renungi dalam menapaki kehidupan didunia yang singkat ini. Apabila dalam kehidupan ini kita bekerja keras dan gigih menanam kebaikan, maka bisa dipastikan kita nanti akan finish dengan bekal yang menggembirakan, sebaliknya bila dalam memerankan kehidupan ini kita malas bekerja, malas beramal, ya jelas kita nanti akan finish dengan penyesalan. Sekarang kita berada pada dua pilihan. Pengen milih hidup yang finish dengan menggembirakan atau hidup yang finish dengan segudang penyesalan. Semuanya tergantung kita. Kalau ingin merubah nasib menjadi lebih baik, ya kudu berusaha hidup lebih baik, direncanakan, diterapkan, baru menanti harapan. Jangan menunggu-nunggu keajaiban datang dengan membawa kebahagiaan. Itu pikiran orang yang malas yang enggan berikhtiar. Agama tidak mengajarkan kepada umat manusia untuk bermalas-malasan melainkan agama menganjurkan supaya manusia berikhtiar merubah nasibnya agar lebih baik.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Q.S. Ar-ra’du: 11)

Sebenarnya kehidupan didunia sudah didesain secara apik oleh Sang Maha pembuat skenario. Tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang ciderai. Semuanya diciptakan dengan takaran yang sempurna. Bukan sempurna menurut penilaian manusia, tetapi sempurna menurut ukuran-Nya. Sangatlah tidak mungkin, Dzat yang maha pengasih dan penyayang pilih kasih dalam membuat skenario alur hidup hamban-Nya. yang dikasihi skenario hidupnya diistimewakan, rezekinya dilancarkan, dijauhkan dari musibah, diberi pasangan hidup yang membahagiakan, sedangkan yang dibenci skenario hidupnya disengsarakan, impossible!. 

Lantas adanya perbedaan nasib kita dengan yang lain, itu semata-mata karena diri kita sendiri yang malas merubahnya, malas berusaha, malas beramal sholih, akibatnya nasibnya menjadi berbeda dengan yang lain. Pada hal ayat diatas secara gamblang Allah menganjurkan kepada umat manusia, jika ingin berkehidupan yang layak, harus berusaha merubah nasibnya. Dengan cara apa? Ya. Dengan cara belajar, bekerja, berusaha dan berdo’a dengan beragam cara. Karena hanya dengan itu, kita dapat menggapai kebahagiaan didunia dan diakhirat nanti.

Saudaraku, yakinlah bahwa skenario Sang Maha sungguh sangat sempurna, tinggal kita mampu memerankannya dengan baik atau tidak. Jika peran kita baik, tentu kita akan mendapatkan imbalan yang baik, namun jika acting kita buruk, apalagi sampai menyalahi skenario, wahh, resiko ditanggung penumpang. Itulah tamsil kehidupan manusia dialam dunia ini. Orang yang kehidupannya mapan dan sukses, karena ia mampu memerankan skenario hidup dengan baik. Bagi yang kehidupannya seret dan susah, bisa jadi ia kurang mampu beracting dengan baik, atau mungkin ia menambahkan skenario lain yang bertolak belakang dengan skenario hidupnya, akibatnya ia susah. Karena itu, supaya kehidupan kita menjadi bermakna dan tidak melenceng dari skenario-Nya, tidak ada salahnya kita sutradarai kehidupan kita sendiri, agar kita lebih nyaman memerankan sandiwara kehidupan.

Mensutradarai diri sendiri bukanlah kita mengambil alih kekuasaan Tuhan, itu namanya takabur bin musyrik. Tetapi maksudnya adalah kita didalam memerankan sandiwara kehidupan ini didasari pada keihlasan hati dalam berakting dan tidak merasa berada dalam cengkeraman pengawasan yang menakutkan seorang sutradara. Beda lho, orang yang hidup dalam tekanan dengan yang tidak. Didunia ini banyak orang yang sholatnya nggak khusuk, zakat dan sedekahnya nggak ihlas, dikarenakan ia melaksanakannya dengan perasaan takut akan adzab dan siksa neraka. Sebaliknya orang yang sholatnya khusuk, zakat dan sedekahnya lancar, ibadah lainnya pun langgeng, karena ia melakukaannya tidak dalam paksaan, melainkan semata-mata mengharapkan ridho dari Allah, bukan berharap akan masuk surga atau dijauhkan dari neraka. Maka dari itu, supaya kita enteng melaksanakan segala aktifitas, baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama. Ada baiknya kita menjadi sutradara atas diri kita sendiri. Pedomannya skenario dari Allah, sutradaranya kita sendiri sekaligus pemerannya juga kita sendiri, sehingga dalam memerankan hidup ini kita bisa ihlas tanpa ada paksaan. Lebih cakep lagi bila kita menteladani aktingnya aktor kawakan yang telah menebarkan kedamaian diseluruh jagar raya ini yaitu Rasulullah SAW bersama keluarga, sahabat, tabiit dan tabiin yang istiqomah mengikuti jejaknya. Sebuah film kehidupan dunia ini bila digarap sesuai skenario dan diperankan dengan sungguh-sungguh, maka akan melahirkan film kehidupan yang sempurna, sehingga Sang Produser, Allah SWT tak segan-segan membayar gaji yang besar, bila perlu setiap aktor kehidupan, satu persatu akan diberi bonus yang istimewa yaitu surga yang keindahan dan kemewahannya tak ada bandingannya. Itulah enaknya menjadi sutradara diri sendiri. Menjalankan kehidupan dunia dengan tenang, menggapai kehidupan akhirat pun terasa nyaman.

Coba lihat para aktor film dalam berakting, bila tidak sesuai dengan kehendak sutradara, pasti akan dibentak-bentak dan dimarahi, sehingga ia berakting dalam suasana tegang dan berada pada bayang-bayang menakutan, sebab bila aktingnya nggak bagus, bakalan filmnya nggak layak tayang, dirinya pun nggak dapat honor. Sama halnya dengan kehidupan dunia. Bila dalam berbuat sesuatu kita merasa berada pada cengkeraman pengawasan dan ancaman, dikhawatirkan kita melakukan sesuatu bukan karena keihlasan melainkan karena tuntutan. Dan hal itu sudah dapat kita rasakan, ketika kita sholat 5 waktu  setiap hari, rata-rata kita melakukannya karena memenuhi kewajiban, bukan karena mencari ridho Tuhan. Memang dinilai masih mendingan dari pada yang tidak sholat. Tetapi kurang afdhol. Karena sejatinya Allah tidak mengharapkan sesembahan dan ritual hambanya, tetapi ketulusan hati dan ketaatan mengabdi seorang hamba itulah yang dinilai oleh-Nya.

Tuhan pun berkata: “Terserah”
Dunia memang panggung sandiwara, sehingga ada berbagai macam akting yang diperankan oleh umat manusia semenjak Nabi Adam hingga orang yang terakhir nanti. Ada yang aktingnya menjadi orang yang baik-baik, ada yang menjadi orang yang jahat, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang dermawan, ada yang kikir, ada yang iman dan ada yang kafir. Melihat fenomena tingkah laku manusia yang beragam itu, Tuhan pun berkata “terserah”.

Didalam hidup didunia ini tidak ada paksaan bagi umat manusia untuk berbuat sesuatu, hanya saja Allah memberikan rambu-rambu dan aturan, mana perbuatan yang diperbolehkan dan mana perbuatan yang dilarang. Realisasinya terserah manusia. Bagi yang taat dan mengikuti alur aturan kehidupan yang telah ditetapkan, ia akan selamat sampai ditujuan. Sedangkan bagi mereka yang sengaja menerabas aturan, resikonya ia akan mendapatkan adzab. Allah sungguh maha bijaksana, karena kebijaksanaan-Nya, Dia memberikan petunjuk dan larangan, yang secara langsung digambarkan melalui utusann-Nya yakni Rasulullah SAW yang membawa misi Alqur’an kalamullah untuk disampaikan kepada umatnya agar hidupnya tidak salah jalan. Kalau sesudah diberikan teladan dan bimbingan melalui sunnah Rasul, kemudian ada yang kehidupannya selamat, sejahtera, bahagia didunia dan akhiratnya, itu karena ia memang rajin berusaha. Tetapi kalau ada yang telah dipaparkan teladan dan bimbingan, tetapi dikehidupan dunianya tetap sengsara diakhirat masuk neraka, itu bukan karena Tuhan tak sayang hambanya “semua terserah kita” begitulah bang H. Rhoma Irama menuturkan dalam syair lagunya.

“Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". (Q.S. Kahfi: 29)

Sebenarnya ayat diatas merupakan bentuk penegasan bahwa Allah SWT tidak memaksakan hambanya untuk berbuat baik, Allah pun sebenarnya tidak membutuhkan pujian dari hambanya. Karena tanpa disembah dan dipuji pun, Dia masih tetap Raja diraja diatas alam semesta ini. Bukannya ketika manusia enggan memuji kemudian turun pamor dan kebijaksanaan-Nya. Sama sekali tidak begitu. Justru seharusnya dengan memuji itu, merupakan realisasi dan ekspresi wujud syukur seorang hamba kepada Tuhannya. Karena berkat kemurahan Tuhan yang maha kuasa, engkau diberikan rizki yang melimpah, organ tubuh yang sempurna dan nafas yang gratis dan cuma-cuma.  

Pernahkah kita merenungkan. Setiap hari nafas ini kita hembuskan dengan gratis tanpa ada pajak pungutan. Rasanya nggak terbayang seandainya nafas ini diperdagangkan. Berapa juta yang harus kita keluarkan tiap harinya demi perpanjangan nafas kita, itu pun kalau ada stoknya, kalau sampai gak ada? Bisa-bisa kita bergelimpangan mengharapkan  bantuan nafas ini. Belum lagi berapa biayanya sewa sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan dan kaki. Sungguh Allah maha pemurah, Sungguh Allah maha adil dan bijaksana, kemurahan dan kebijaksanaan-Nya adil dan merata. Meskipun begitu tak jarang diri kita ini meragukan kemurahan-Nya, mengkerdilkan kebijaksanaan-Nya hanya karena kita diuji dengan kesusahan semata. Tak malukah kita yang tiap hari menikmati dengan gratis seluruh organ tubuh buah karya cipta-Nya?

Saudaraku, sungguh Allah Maha Pemurah karena kemurahan-Nya, Ia bentangkan rizki dari ujung timur hingga ujung barat, dari atas hingga dari dasar bumi, Ia turunkan hujan dan menumbuhkan berbagai macam pepohonan yang buahnya dapat kita nikmati setiap hari. Nah, dengan kemurahan seperti itu, masihkah kita enggan mengikuti petunjuk dan perintah-Nya? Beratkah kita menghindari sesuatu yang dilarang-Nya? Jika engkau tetap dalam pendirian, enggan sholat, enggan zakat, enggan puasa dan haji, kemudian lebih menuruti hawa nafsu dan kesenangan dunia yang penuh dengan tipu daya kesesatan, mabuk-mabukan, perzinaan dan permusuhan, berjudi dan korupsi, sungguh engkau berada pada jalur kesesatan yang nyata. Melihat tingkah dan lakumu seperti itu, Tuhan pun berkata “terserah”.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” ( Q.S. Al-Isra’:7)


Sungguh hidup merupakan sebuah pilihan. Karena dihadapkan dalam sebuah pilihan, maka sama sekali tidak ada paksaan. Jika dikemudian hari ada yang berkata bahwa ia sholat, zakat, dan puasa, karena terpaksa karena takut diancam dengan siksa neraka, sungguh ibadahnya sia-sia belaka. Jika suatu saat nanti ada yang berkata bahwa ia pergi haji karena terpaksa, sebab takut melanggar rukun islam yang kelima, sungguh amat percuma dan tiada manfaatnya ibadah hajinya. Ingatlah, setiap amal perbuatan akan kembali pada pelakunya. Jika anda memilih beriman dan beramal sholih, tentu engkau akan memetik buah dari manisnya iman, tetapi bila engkau tetap ingkar. Ya. terserah!. Tidak ada yang tertukar, tidak ada yang meleset, semua perbuatan akan kembali pada dirinya sendiri.

Kamis, 09 Mei 2013

Menggapai Harapan itu Ada Ilmunya


                                                                   
Manusia hidup dialam dunia ini dikelilingi dengan harapan-harapan, karena harapan itulah manusia tetap bertahan untuk hidup. Setiap orang wajib mempunyai harapan, entah itu harapan ingin mendapat banyak rizki, ingin punya anak, ingin jadi pejabat, ingin banyak ilmu dan lain-lain. Jika tidak, maka setiap orang tidak semangat didalam menjalani hidup ini, hidupnya akan hampa, hidupnya tak bermakna dan tanpa tujuan. Harapan itu harus diwujudkan agar roda kehidupan terus berjalan. Menggapai harapan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi harus bersusah payah mempelajari dan mengejarnya. Karena setiap harapan, setiap cita-cita itu bisa terwujud manakala seseorang mengetahui cara untuk menggapainya. Setiap sesuatu itu ada ilmunya, maka gapailah harapan dan cita-citamu dengan ilmu. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالْاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بَالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Siapa yang menginginkan dunia(kebahagian dunia), maka hendaklah ia berilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat (kebahagian dihari kemudian), maka hendaklah ia belajar dan berilmu, dan siapa yang menghendaki keduanya, maka ia pun harus berilmu “.

Penyair berkata :

فَقُلْ لِمُرَجِّيْ مَعَاِليَ اْلاُمُوْرِ   *   بِغَيْرِ اِجْتِهَادٍ: رَجَوْتَ الْمُحَالاَ
Katakanlah kepada orang yang ingin menggapai hal-hal yang luhur, tanpa bersusah payah, kamu mengharapkan sesuatu yang mustahil.

Seseorang bercita-cita ingin jadi presiden, maka dia harus menguasai ilmunya, menyiapkan segala bekalnya, mulai dari mendirikan partai politik, menebar pengaruh dan menyiapkan biayanya, baru dia boleh bermimpi menjadi presiden. Seseorang ingin mempunyai keturunan, maka dia harus menikah dan mempelajari seluk beluk kehidupan rumah tangga beserta permasalahannya agar harapan mempunyai keturunan terwujud. Seseorang ingin menjadi pejabat, ingin menjadi pegawai negeri pun harus mengetahui ilmunya dan mengikuti berbagai proses yang harus dilewatinya untuk dapat lulus menjadi pegawai negeri. Seseorang yang ingin meraih hal-hal yang mulia, ia wajib tekun, ulet dalam menempuh dan mencintai jalan-jalan agama yang menjanjikan kebahagiaan abadi, meskipun pada awalnya sulit untuk menghindari berbagai macam penderitaan dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Tetapi jika ia mampu mengendalikan nafsunya dan sabar menghadapi segala kesulitan, tentu nantinya akan menuju kesebuah tempat yang mulia.

Seorang nahkoda kapal yang sedang berlabuh mengendalikan laju kapalnya dan ingin lekas sampai pada tempat yang menjadi tujuannya, tentunya ia harus memiliki kesungguhan serta semangat, termasuk harus melawan badai dan ombak yang merintangi perjalanannya, dan apabila seorang nahkoda kapal mencoba menyimpang dari rute yang mesti harus dilaluinya atau mengendalikan laju kapalnya sesuka hatinya tanpa melihat arah. Pertanyaannya kapan ia sampa ketempat tujuannya?

Muhammad Ahmad Ismail al Muqoddam berkata :

Siapa ingin dapat harus giat
Dan malas adalah kegagalan
Siapa bersusah payah
Ia akan segera mendapat puncak harapan.

Orang bijak berkata :

Jangan kira kemuliaan itu seperti kurma
Yang siap kamu makan
Karena kamu tidak akan mendapatkannya
Tanpa melewati kesabaran

Sangat beda orang yang menggapai harapan dengan ilmu dan orang yang menggapai harapannya dengan nafsu. Orang yang berilmu tentu yang bicara adalah akal dan hati dan bekerja bersama-sama sedangkan orang yang mengedepankan nafsu tentu yang bicara adalah hati dan mengesampingkan otak dan akalnya. Misalnya ada dua orang yang sama-sama ingin mewujudkan harapannya menjadi seorang pegawai negeri sipil, namun cara mereka berbeda. si A dalam menggapai harapan dan cita-citanya menggunakan ilmu, sedangkan si B mengedepankan nafsunya. Apa yang terjadi. Si A mengikuti segala proses yang ditentukan pemerintah untuk jadi PNS dengan cara mengikuti test tulis test lisan, mengadu kecerdasan otak dengan bersaing dengan ribuan pesaingnya hingga lulus jadi PNS. Sedangkan si B yang mengedepannkan nafsunya ingin memiliki jabatan itu harus melewati pintu belakang, pintu-pintu yang tidak dibenarkan oleh undang-undang baik Negara maupun agama. Suap sanan suap sini, berbagai cara yang tidak baik pun dilakukan. Kalaupun seandainya keduanya sama-sama berhasilpun, pasti aka nada perbedaan cara pandang dan kinerjannya. Bisa jadi si A dengaan segalaa potensi dan keilmuan yang dimilikinya hingga lolos jadi PNS akan mempunyai kebanggaan atau rasa syukur yang menghiasi jiwanya, sudut pandang daan kinerjannya pun berorientasi pada prestasi kerja. Lain halnya dengan si B, dia lolos jadi PNS melalui pintu belakang, jalan pintas yang penting berhasil dan lolos, meskipun harus mengeluarkan kocek puluhan juta rupiah, akan berpengaruh pada sudut pandang dan kinerjanya. Biasanya orang yang sukses karena karena sudah mengeluarkan uang banyak, ujung-ujungnya bukan prestasi kerja yang dicari daan didahulukan melainkan gimana caranya semua dana yang dikeluarkan dahulu bisa kembali modal. Lah kalau orang-orang dinegeri ini seperti itu, alamat hancur kepribadian bangsa ini.

Belajarlah dan tuntutlah ilmu setinggi mungkin agar anda dapat menggapai setiap harapan yang menjadi cita-citamu. Orang berilmu itu enak kok. Orang berilmu itu laksana burung yang terbang tinggi diangkasa yang tak takut memandang kebawah karena mempunyai keseimbangan daya pikir, ego, kecerdasan dan kekuatan. Orang berilmu itu akan selalu berdiri tegak walaupun zaman selalu bergonta ganti dan hanya orang berilmu pulalah yang akan membawa dirinya selamat dalam perjalanan mencari ridha-Nya.

Tak ada kata terlambat untuk belajar, pun tak ada kata terlambat untuk menggapai harapan. Tumbuhkan harapan disetiap helai keluarnya nafasmu. Harapan tidak harus berupa suatu pangkat atau jabatan, atau berbentuk sesuatu benda yang mewah atau istimewa. Harapan yang paling istimewa dan berharga yang harus selalu kita tumbuhkan dalam diri ini adalah tumbuh suburnya iman dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Orang yang mendambakan kesuburan iman didalam hatinya adalah sesempurnanya nikmat yang melebihi dari segala kekayaan yang pernah anda miliki. Apalah artinya kesuksesan bila hatimu gelap tanpa arah, apalah artinya jabatan, kemewahan jika hatimu  keras sekeras batu yang tiada mempunyai ketenangan dan hanya menjadi hunian tumpukan amarah dan sampah kemaksiatan.

Selasa, 25 September 2012

KEHIDUPAN BELUM BERHENTI

“ Seberapapun jauh anda gagal tidaklah bermasalah, tetapi yang penting seberapa sering anda bangkit untuk mencobanya bangkit kembali ”.
Ada seorang wanita sebut saja Rina yang terhimpit masalah yang sangat berat, dia adalah ibu rumah tangga yang setiap hari disibukkan dengan urusan rumah tangganya, memasak untuk anak dan suami, bersih-bersih rumah, memandikan anak, memberi makan anak, dan mempunyai sampingan jual nasi pecel kecil-kecilan disekitar tempat tinggalnya, intihnya dia ini wanita yang sangat sibuklah. Sedangkan sang suami bekerja sebagai karyawan disebuah perusahaan swasta. Kurang lebih lima belas tahun berumah tangga mereka dikaruniai 4 orang anak, anak yang pertama sudah kelas 3 SMP, anak yang kedua kelas 5 SD dan yang dua lainnya masih kecil. Dalam membina rumah tangganya Rina mengalami cobaan yang bertubi-tubi mulai dari soal ekonomi hingga masalah suami dan anak-anaknya. Gaji suaminya yang minim membuat Rina harus montang manting membantu bekerja untuk menyuplai dana buat kebutuhan keluarga. Disamping itu Rina juga mempunyai beban batin yang amat dalam karena sudah ekonomi yang serba sulit ditambah lagi suaminya harus serong sama perempuan lain. Wah, makin bertambah lagi cobaan bagi rumah tangganya Rina. Namun Rina tetap tabah menghadapinya meskipun sudah berulang kali mengingatkan suaminya tapi tidak ada hasilnya. Rupanya kian hari cobaan Rina tidaklah surut malah makin bertambah, dengan musibah yang menimpa anaknya. Petang hari ketika pulang dari sekolah anaknya yang baru kelas 3 SMP mengaku telah diperkosa orang yang tak dikenalnya hingga akhirnya harus hamil. Bagi Rina, andai bunuh diri itu bukan perbuatan yang dilarang, tentu dia sudah membunuh dirinya agar terhindar dari masalah yang kian berat menimpa keluarganya.

Namun tidaklah seperti itu yang dilakukan oleh Rina. Dia tetap berusaha sabar karena dia yakin bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah SWT, cobaan yang dialaminya dianggap sebagai cobaan bagi ketaatan dirinya pada sang maha kuasa, bukan dianggapnya sebagai hukuman Allah bagi dirinya. Menghadapi kesulitan yang begitu berat dalam rumah tangganya, ditambah lagi suaminya yang selingkuh dengan orang lain, Rina memutuskan untuk menuntut cerai dan cerai pun harus terjadi. Ditengah kesendiriannya mengurusi anak-anaknya tanpa suami, Rina harus jungkir balik menafkahi kebutuhan anak-anaknya yang dibantu oleh anaknya yang harus putus sekolah karena hamil. Rina tetap yakin semua ini terjadi atas kehendak Allah SWT. Pasti akan ada hikmah atas semua ini, ia tidak menyerah terhadap takdir, karena dia faham bahwa takdir seseorang tiada yang tahu, mungkin hari ini Allah SWT mentakdirkan diri dan anak-anaknya harus menanggung beban hidup yang amat berat, namun kehidupan belum berhenti, dan manusia tidak tahu takdir apa yang akan diterimanya kedepan nanti, maka Rina bangkit untuk terus berusaha, ada Allah SWT bersamaku, Ada Allah yang membantuku, Ada Allah yang mencukupiku, dengan ucapan bismillah Rina bangkit melawan kesulitan hidupnya. Dia yakin bahwa kesulitan yang ia hadapi adalah kehendak Allah dan Allah SWT tahu bahwa itu semua masih dalam ukuran kesanggupan hamba-Nya. Sebagaimana firmannya:

“ ....Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan “.(Q.S. At Thalaq: 7)

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Q.S. Al-Baqarah:286)

Kata-kata bijak mengatakan:
“ Seberapapun jauh anda gagal tidaklah bermasalah, tetapi yang penting seberapa sering anda bangkit untuk mencobanya bangkit kembali ”.

Dari selembar kertas koran yang Rina gunakan sebagai pembungkus nasi pecel dagangannya tertulis kata-kata bijak yang membangun motivasi bagi dirinya, Rina semakin termotivasi, ia yakin dirinya masih ada peluang untuk bangkit kembali, ia semakin giat berusaha, puasa senin-kamis dilaksanakannya, tengah malam bangun untuk tahajud dan bersimpuh pada Dzat penguasa jagat, ia memohon pertolongan dan jalan keluar dari permasalahannya, habis tahajud ia langsung mempersiapkan dagangannya sambil menunggu waktu shubuh tiba. Alhamdulillah jualan nasi pecelnya lancar dan ia pun tak lupa menyempatkan waktunya untuk sholat dhuha, ia gemar sholat dhuha karena dhuha tempatnya dia mengadu terhadap Rabbnya atas segala persoalan hidupnya.

Waktu kian berlalu, akhirnya do’a Rina dikabulkan oleh Allah SWT. Karena anaknya yang menjadi korban pemerkosaan ditolong oleh seorang ustadz, untuk menutupi aib anaknya, ustadz tadi dengan ihlas apa adanya untuk menikahinya. Bukan main rasa syukur Rina atas semua ini, Rina yakin ini adalah jawaban dari Allah SWT atas do’a-do’a yang ia panjatkan pada-Nya. Kehidupan Rina dan anak-anaknya Alhamdulillah berangsur-angsur membaik, berawal dari jualan nasi pecel kecil-kecilan disamping emperan rumahnya, kini Rina sudah bisa membuka Depot sederhana yang memiliki omzet penjualan yang lumayan menjanjikan, hingga Rina beserta anak dan menantunya bisa memenuhi panggilan Rabbnya untuk melakukan ibadah umrah bersama.

Subhanallah, beginilah kisah orang yang kuat, ulet, sabar dalam berusaha, tiada lupa ia berdo’a dan mengharapkan pertolongan Rabbnya, wal hasil Allah SWT membukakan jalan keluar yang tak pernah ia sangka-sangka pada akhirnya.





Senin, 24 September 2012

SULITNYA CARI JODOH


“Jodoh sulit dicari! Tak ada salahnya anda koreksi diri, barangkali ada ketidakberesan dalam diri anda”



Banyak orang yang mengatakan bahwa dunia ini adalah tempat persinggahan, ada yang mengatakan bahwa dunia adalah panggung sandiwara, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa dunia ibarat mampir ngombe, saking singkatnya kehidupan dunia sehingga banyak yang menginginkan kehidupannya bisa menyenangkan, kenapa harus dibikin susah, hidup satu kali hiduplah yang berarti. Ada pula yang agak nyeleneh, bahwa dunia itu tak selebar daun kelor.

Ahh itu adalah pendapat mereka yang sedang berkecamuk menentukan nasibnya harus seperti apa. Tapi okelah saya setuju dengan senyeleneh-nyelenehnya pendapat mereka. Lho kok bisa gitu. Iya, dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, karena kehidupan yang sesungguhnya hanya ada didalam surga ataukah neraka.

Dunia adalah panggung sandiwara, 100% gak salah, karena dalam kehidupan ini telah tertulis rapi dalam sebuah buku skenario sang maha 50 ribu tahun yang sebelum langit dan bumi ini diciptakan.

Dunia ibarat mampir ngombe, hemm.. bener juga, karena itu merupakan petuah yang bijak bagi masyarakat jawa untuk mengingatkan dirinya bahwa kehidupan ini hanya sebentar, karena itu manfaatkan kehidupan dunia dengan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk perjalanan selanjutnya.

Dunia tak selebar daun kelor, ya tentu dong, kalau dunia hanya selebar daun kelor, kira-kira seberapa gede ya gunung semeru berdiri disitu. Tapi gak masalah, pribahasa “dunia tak selebar daun kelor” bila kita amati ternyata mengandung filosofi dan motivasi yang sangat bermakna, dan cocok sekali jadi petuah bagi mereka yang kesulitan cari jodoh. Bagaimana tidak. bumi ini sungguh lebar saking lebarnya hingga kita tak mampu menelusuri dimanakah letak batasnya bumi. Selain itu didalamnya juga dihuni milyaran manusia, bahkan ada survei yang mengatakan bahwa penduduk bumi ini didominasi oleh kaum hawa, tapi kenapa ya ada sebagian dari saudara-saudara kita yang sulit mendapatkan jodohnya? Ada yang membujang semumur hidup katanya tidak laku, pada hal mereka juga berekonomi mapan, tidak jelek-jelek amat, bahkan ada pula yang sudah sarjana sampai pegawai negeri.

Begini sobat, anda pasti sepakat dan menyakini bahwa rezeki, jodoh dan kematian sudah ditentukan oleh Allah SWT. Anda kejar kemanapun kalau bukan jodoh anda, maka anda tak akan bisa bersatu.

Ada yang diam dirumah saja jadi anak mami, lulus SMA saja jodohnya sudah datang, ada yang mojok semalaman sampai kebablasan kemudian dikawinin itu juga merupakan jodohnya. Bahkan ada yang berusaha hingga ditentang oleh kedua belah pihak orang tuanya tetapi kalau sudah jodohnya, mau bilang apa?.

Ini merupakan area kekuasaan tuhan yang maha kuasa. Anda sebagai hamba tak patut memasuki area kekuasaan-Nya, meskipun takdir itu mutlak hak-Nya, tetapi Allah SWT masih memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya untuk berihtiar semaksimal mungkin mengejar cita-citanya termasuk jodoh. Kalau Allah sudah memerintahkan untuk berihtiar berarti dibalik kekuasaan-Nya masih ada kemungkinan-kemungkinan seorang hamba untuk memohon kepada-Nya. Nah, Sisi ihtiar inilah yang seharusnya anda tumbuhkan dalam hati sebagai cahaya pengharapan seorang hamba dalam meminta suatu hajat kepada tuhannya. Masalah jodoh memang ditangan tuhan, tetapi anda harus mencoba menggapainya melalui sisi ihtiar tadi. Berihtiarlah menjemput jodoh anda, gunakan banyak cara untuk memikat pria atau gadis pujaan selera anda, selagi cara itu masih dibenarkan oleh syariat agama.

“Perempuan itu dikawin karena empat perkara yaitu:karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka oleh sebab itu hendaklah engkau memilih (perempuan) yang beragama, pasti engkau berbahagia (selamat)” (H.R. Bukhori) 

 Berdasarkan hadits diatas, hal yang terpenting dalam memilih jodoh adalah karena agamanya, karena agama merupakan pondasi hidup dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Memang sih kalau bisa request, anda pasti menginginkan keempat-empatnya, kaya, dari keturunan yang baik-baik, cantik dan sholihah, uhh ngejreeng banget.

Tapi emang ada yang seperti itu? Jangan-jangan terlalu terfokus mengejar yang seperti itu, anda keburu tua dan gak laku-laku. Karena itu agama memberi tuntunan yang sangat bijak dalam memilih pasangan hidup berdasarkan agamanya. Pernahkah kita mendengar pertanyaan “mengapa sih jodoh sulit dicari”? jodoh memang ditangan tuhan, tapi tak ada salahnya dong anda instrospeksi diri, siapa tahu sulitnya jodoh yang anda hadapi karena ada sesuatu didalam diri kita yang tanpa kita sadari tidak disukai orang lain. Apa saja yang harus kita koreksi :

  • Pertama: Koreksi gaya hidup anda 
Mungkin gaya pakaian anda selama ini terlalu kusam atau jorok dan nggak rapi, tutur bahasa kita yang terlalu muluk-muluk sehingga orang-orang pada benci, cara bergaul kita yang pilih-pilih, atau mungkin akhlak kita yang tidak islami. Kalau misalnya hal ini ada pada diri kita, wajar dong kalau jodoh kita sulit. Bagaimana tidak, kita menginginkan diberi pasangan hidup yang sholih atau sholihah, tetapi diri kita tidak mencerminkan orang yang sholih. 

  • Kedua: Koreksi hubungan anda terhadap tuhan. 
Bertanyalah pada diri anda sendiri, apakah selama ini hubungan anda dengan Allah SWT, semakin dekat, renggang atau mungkin tidak berhubungan sama sekali. Hubungan yang dimaksud disini adalah ibadah kita sudah benar apa belum, dalam artian yang fardhu terlaksana, tahajudnya rutin, dhuhanya istiqomah. Karena ibadah itu suatu media seorang hamba memohon kepada Rabbnya akan semua hajat yang dibutuhkan. Logikanya, bagaimana mungkin anda berkeinginan hajatnya terlaksana, sedangkan anda saja tidak pernah minta. 

  • Ketiga : Koreksi Syarat dan Kriteria yang anda inginkan. 
Terkadang kriteria seseorang dalam memilih pasangan hidup juga jadi penyebab kenapa jodohnya sulit dicari. Bener kayak gitu. Mungkin saja iya, karena kriteria yang anda inginkan ketinggian. Secara tidak langsung kriteria yang anda ajukan itu menjadi sebuah iklan yang mempromosikan diri anda kepada khalayak, lha kalau kriteria yang anda pasang dalam iklan terlalu muluk-muluk, ya orang ngebacanya saja sudah nek, sombong banget orang ini, nah, apa yang terjadi. Maksud hati ingin menarik simpati, eh gak tahunya orang-orang pada lari menjauhi anda. Karena itu jangan terlalu pilih-pilih, kaya tidak apa, keturunannya orang gedean tak masalah, cantik juga tidak apa, yang penting agamanya baik. Hemm.. ini enaknya sendiri aja, maksud saya pilihlah agamanya saja seandainya yang harta, nasab dan cantiknya tidak anda temukan. Jangan pilih yang cantik saja, orang cantik itu tuntutannya banyak lho, biaya perawatannya saja satu bulan bisa-bisa melebihi biaya makannya, ehh yang merasa cantik marah tuh. Ya gak semuanya kayak gitu sih, tapi secara matematika anda tentu sudah membayangkan, orang cantik itu segala kebutuhan penunjangnya memerlukan biaya, iya kan? Karena itu petuah yang diajarkan rasulullah sungguh bijaksana, kalau anda tak mampu mencari keempat kriteria tadi, minimal anda menemukan yang agamanya bagus.

  • Keempat Koreksi Finansial anda. 
Sebelum anda melangkah kejenjang pernikahan, ada baiknya anda mempersiapkan segala keperluannya untuk menunjang kehidupan anda nantinya. Semisal, pekerjaan sudah mapan, rumah sudah oke, kendaraan sudah siap. Nah baru anda melangkah kesitu. Lho, ribet banget, bukankah Al-Quran sudah mengajarkan bahwasannya orang yang menikah itu, bagi yang miskin Allah akan memampukan mereka? 

 " Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (Q.S. Annur : 32) 

Sama sekali anda tidak salah, tetapi alangkah lebih baik sebelum semuanya terjadi, segalanya sudah kita persiapkan. Membina rumah tangga itu nggak semuda yang kita bayangkan, pasti didalamnya nanti banyak masalah yang bermunculan, ahh jangan nakut-nakutin. Ini nggak nakut-nakutin, tetapi berdasarkan pengalaman mereka-mereka yang telah berumah tangga termasuk yang nulis buku ini lo. Bahkan ada yang bilang nikah itu enak pas waktu tidurnya saja, uhh rasanya nggak hanya itu deh, orang yang nikah itu kalau berhubungan dengan istrinya laksana jihad memerangi orang kafir, mencium sang istri ibarat mencium hajar aswad, dahsyat. Sobat, ikutilah tips diatas, siapa tahu dengan mengikuti tips diatas Allah SWT mempermudah jodoh anda. Coba saja, lagian gratis, gak pake bayar. Semangat untuk mencoba dan optimis. Jikalau sudah notok usaha anda namun jodoh masih juga enggan datang, sudah saatnya anda bertawakkal kepada-Nya. Pasti ada hikmah dibalik semua ini.