Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2018

Telogo Watu Desa Keben Turi Lamongan

Telogo Watu merupakan situs bersejarah yang berada di Desa Keben kecamatan Turi Kabupaten Lamongan.  Letaknya ada disebelah timur lapangan sepak bola dan berada ditengah sawah.  Konon,  ditengah telaga itu terdapat sebuah gundukan batu yan bertulisan aksara jawa kuno yang sudah berumur ratusan tahun.  Sayangnya batu prasasti itu tidak dapat dilihat, dikarenakan sudah tertimbun tanah dan genangan air.
Menurut perangkat Desa setempat,  batu prasasti itu tertimbun tanah sekitar 2-3 meter.  Sejauh ini tidak ada warga yang berniat menggalih dan membangun cagar budaya ini.  Dikarenakan,  mitos yg berkembang didesa setempat,  bahwa telogo watu terkenal angker sehingga warga desa takut mengotak atik situs tersebut. 
Dilain pihak,  menurut Penerawangan salah seorang ahli makrifat yg seumur hidupnya berpuasa,  mengatakan bahwa ditlogo watu itu terdapat ribuan Begejil (Jin)  yg dipasung oleh seorang wali dari timur tengah yg bernama syekh subakir, beliau mengatakan,  seandainya pasungan para jin itu lepas,  maka pulau jawa ini terancam bahaya. 
Tetapi dalam beberapa bulan terakhir ini,  situs telogo watu mulai mendapat perhatian dari pemdes desa keben dan dinas pariwisata kab.  Lamongan untuk di gali dan di perbaiki sebagai aset cagar budaya kabupaten lamongan. 

Jumat, 21 Maret 2014

Sejarah Berdirinya MI. Qomarul Wathon

Sejalan dengan berkembangnya peradapan zaman yang menyelimuti bangsa-bangsa didunia khususnya indonesia setelah hampir ± 3,5 abad atau 350 tahun indonesia sengsara dan menderita akibat dijajah oleh kolonial belanda menyebabkan rakyat indonesia mengalami keterpurukan karena susahnya memperoleh pendidikan. Sementara itu tidak dapat disangkal bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian dan perilaku manusia. Pada era kemerdekaan tahun 1945 negara indonesia setapak demi setapak mulai memperhatikan betapa pentingnya sebuah pendidikan dan pengajaran. Di era ini masih jarang sekali adanya tempat-tempat sekolah, kalau pun ada juga modelnya bukan sekolah seperti halnya era sekarang ini tetapi masih bersifat klasik atau tradisional dimana orang-orang mendapatkan pendidikan melalui langgar-langgar, pondok pesantren bahkan juga ada rumah-rumah penduduk yang dijadikan tempat belajar. Hal ini sesuai dengan keadaan sekitar tahun 1951 tepatnya di Desa Turi Kec. Turi Lamongan, sebuah desa yang penduduknya mayoritas beragama islam ala Nahdlatul Ulama (NU) ini mulai memandang pentingnya sebuah pendidikan. Pendidikan masa itu diprioritaskan pada pendidikan keagamaan mengingat penduduk desa Turi masih banyak yang kurang memahami ajaran islam dengan benar. Berawal dari inisiatif pemikiran salah satu tokoh masyarakat yang bernama Mbah H. Abdul Karim yang pada saat itu beliau menjabat sebagai ketua ranting Nahdlatul Ulama Desa Turi mencoba mencetuskan gagasannya untuk membentuk lembaga pendidikan . Dari ide dan gagasannya itu beliau mengumpulkan tokoh masyarakat lainnya yang di anggap mempunyai kemampuan untuk di ajak bermusyawarah terkait dengan ide dan gagasannya tersebut. Orang-orang yang terlibat dalam musyawarah itu berjumlah 9 orang yang seterusnya di sebut sebagai tim sembilan, yaitu suatu tim yang mempunyai misi untuk membentuk dan mendirikan lembaga pendidikan di Desa Turi pada waktu itu. Adapun nama-nama yang tergabung dalam tim sembilan itu yaitu : 1. Mbah H. Abdul Karim ( ketua Ranting NU Desa Turi tahun 1951 ) 2. bah Ahmad ( Kepala Desa Turi tahun 1951 ) 3. Mbah H. Hasyim 4. Mbah H. Ichsan 5. Mbah H. Akbar 6. MMbah Marjais 7. Mbah Taslim 8. Mbah Mu’alim 9. Mbah Ra’is. Dari sembilan orang diatas itulah yang kemudian diadakan rapat atau musyawarah untuk merencanakan pendirian lembaga pendidikan pertama kalinya di Desa Turi karena mengingat kurangnya pendidikan dan pengetahuan tentang agama islam. Pembahasan rapat tim sembilan merupakan hal yang tidak mudah karena dalam pendirian lembaga pendidikan di perlukan biaya yang sangat besar untuk menyediakan tempat dan bangunan tempat belajar, sedangkan pada waktu itu rata-rata keadaan ekonomi masyarakat Desa Turi masih menengah kebawah karena dampak dari penjajahan kolonial belanda. Rasanya tidak pantas kalau pendirian lembaga pendidikan ini harus dibebankan kepada masyarakat mengingat masyarakat masih 75 % hidup dalam kemiskinan hal inilah yang terselib dalam benak pemikiran tim sembilan tersebut, perasaan tidak tega menjadi bahan masukan dalam rapat pendirian lembaga pendidikan. Meskipun rapat berjalan lambat karena banyak kekurangan dalam pembiayaan untuk membeli sebidang tanah dan membuat bangunan untuk lembaga pendidikan nantinya, namun masih ada jalan keluar dari hambatan dan kendala yang di hadapi tim sembilan dalam mendirikan lembaga pendidikan pertama di Desa Turi tersebut. Akhirnya rapat memutuskan dibentuknya lembaga pendidikan dengan nama madrasah Diniyah pada tahun 1951, selisih 2 tahun dari diakuinya kemerdekaan Indonesia oleh negara-negara Dunia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB). Adapun tempat dan bangunan untuk kegiatan pengajaran seperti yang menjadi kendala rapat diatas di putuskan bahwa kegiatan mengajar di madrasah Diniyah untuk sementara waktu bertempat di sebelah timur telaga Desa Turi kira-kira 50 meter ke arah tenggara. Dengan tenaga pengajar terdiri dari tiga orang yaitu Ust. Maskur Taslim, Ust. Shodiq dan Ust. Ghufron. Kegiatan belajar ditempat itu tidak berlangsung lama karena terdapat perbedaan pendapat tentang tata cara syiar agama islam dan organisasi yang dinaungi, maka kegiatan belajar mengajar di Madrasah Desa Turi dipindahkan ke Rumah Mbah H. Abdul Karim sampai madrasah mampu membeli tanah untuk mendirikan bangunan madrasah Diniyah sendiri dan rapat juga memutuskan Mbah H. Abdul Karim sebagai Ketua Pengurus Madrasah Diniyah sampai dengan sekitar tahun 1968. Dalam kurun waktu ± 5 tahunan kepengurusan mbah H. Abd. Karim Madrasah Diniyah sudah mampu membeli sebidang tanah untuk didirikan bangunan madrasah nantinya. Namun mengingat lokasi yang kurang strategis, akhirnya tanah tersebut di tukarkan dengan sebidang tanah milik mbah tayeb yang ada di pinggir sungai desa Turi kira-kira 15 meter sebelah selatan masjid. Kemudian dalam perkembangannya, salah satu tokoh pendiri Madrasah yang tergabung di Tim Sembilan yaitu Mbah Marja'is (ayah dari bapak Abd. Hamid) mewakafkan tanahnya yang kebetulan tepat di sebelah selatan masjid untuk di wakafkan ke Madrasah sehingga lokasi madrasah menjadi lebar dan strategis karena berada di tengah-tengah Desa dan dekat dengan masjid. Akhirnya Madrasah Turi bisa membangun gedung sendiri yang sangat sederhana, walaupun masih terbuat dari kayu preng dan berlantai tanah namun dirasa sudah cukup untuk dibuat kegiatan pembelajaran. Kemudian selanjutnya kepengurusan diteruskan oleh Mbah H. Hasyim sampai dengan tahun 1960. Waktu terus berjalan hingga memasuki pertengahan tahun 1960 kepengurusan Madrasah Diniyah Turi di pegang oleh Ust. Fathur Rohman yang merangkap sebagai kepala sekolah. Dalam kepengurusan beliau ini terjadi banyak perubahan dan pembaharuan bahkan terdapat peristiwa yang sangat penting yaitu adanya perubahan nama Madrasah Diniyah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Qomarul Wathon. Setelah itu memasuki tahun ± 1970 kepengurusan MI. Qomaru Wathon di pegang oleh Bapak Masman hingga tahun 1990, regenerasi kepengurusan harus lanjutkan pada kader-kader muda desa Turi, dan hasilnya kepengurusan MI. Qomarul Wathon di serahkan pada Bapak Ahsin Rohman hingga tahun 2002. untuk memacu semangat pembangunan dan perjuangan lembaga pendidikan di madrasah, maka selanjutnya kepengurusan MI. Qomaru Wathon di pegang oleh Bapak Drs. Hadi susiswo beberapa periode hingga sekarang ini

Minggu, 05 Januari 2014

KISAH RASULULLAH SAW & PENGEMIS BUTA YAHUDI

Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang. Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung. Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa. Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi. Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya. “Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah. “Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia. “Apakah dia wahai anakku, Aisyah?” “Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu. “Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya. Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu. “Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan. “Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah. “Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu. “Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih. “Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu. “Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati. “Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu. “Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara. “Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu. “Ya benar. Kamu tidak percaya?” “Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak. “Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. “Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu. Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..