Senin, 16 April 2012

BODOH PERMANEN.. BENER NGGAK YA?

M. Ishaq, S.Pd


Ada sebuah ungkapan klasik yang sering jadi bahan bercandaan bagi sebagian orang yaitu “ Dulu tidak bisa sekarang lupa “. Kalimat ini sangat sederhana dan seakan-akan hanya sebuah bahan guyonan yang tak bernilai apa-apa, namun bila di telusuri tersimpan makna sindiran yang amat dalam maknanya dan ini seharusnya menjadi bahan sandaran perenungan bagi diri para pendidik dalam memperdalam ilmu dan mentransfer pengetahuan pada para siswanya juga bagi peserta didik dalam jenjang pembelajaran disekolah maupun bagi para orang tua dalam mendidik putra dan putrinya dirumah.

Sebagai orang tua tentunya banyak sekali pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami, dan dari pengalaman-pengalam tersebut menunjukkan pada kita, bahwa tidak semua yang telah kita alami dan kita pelajari melekat dalam ingatan kita. Seringkali terjadi, justru yang telah kita pelajari dengan sungguh-sungguh sukar diingat dan mudah di lupakan; sedangkan yang kita alami dan kita pelajari sepintas lalu, lama melekat dalam jiwa kita dan tidak pernah di lupakan. Apakah yang menyebabkan penyakit lupa itu mudah menghinggapi diri kita terhadap apa yang sudah kita pelajari? Atau yang menghinggapi anak kita dalam belajar, pada hal kita sudah ngotot menjelaskan, namun hari besoknya sudah lupa lagi ?

Nah, mari kita sejenak berfikir, berangan-angan terhadap para peserta didik, atau terhadap anak kita sendiri, tidak sedikit mereka yang setiap hari bergelut dengan buku dan menghangatkan bangku sekolah karena begitu lamanya harus duduk dan belajar, mendengarkan penjelasan dan keterangan dari gurunya, belum lagi mengulas pelajaran disekolah bersama orang tuanya, namun semua penjelasan yang telah disampaikan dan diajarkan kepadanya seringkali begitu mudahnya terlupakan. Ada sebagian guru yang mengatakan, kalau anak didiknya diajar hari ini, besoknya sudah lupa. Bahkan ada juga yang mengatakan; pagi hari diajarkan selang beberapa jam karena siswa harus istirahat dan bermain bersama teman-temannya di halaman sekolah, begitu jam masuk berbunyi dan guru mencoba bertanya terhadap apa yang telah dijelaskan pagi tadi ternyata siswa sudah lupa. Ada juga para orang tua yang bilang saya tidak sanggup mengajari anaku sendiri, emosiku meledak melihat anak yang sulit diajari, bawaanya bikin mencubit sianak saja, lebih baik saya keluar duit dari pada harus mengajari anak yang sulit. Melihat fenomena seperti ini, tidak sedikit para guru naik darah dan memarahi siswanya, atau mungkin menggedor papan tulis untuk melampiaskan kejengkelannya terhadap anak didiknya. Tak sedikit pula orang tua yang menjewer telingga anaknya, bahkan ada yang terlalu emosi dengan ngata-ngatain anaknya “goblok”. Tentunya sangat salah kaprah kalau kita lantas begitu saja memarahi anak kita, bisa-bisa gak jadi pinter malah anak menjadi strees. Terus trauma dalam belajar, akibatnya bodoh. Iya kalau kita mampu membangkitkan motivasinya untuk belajar lagi, nah kalau tidak, apa anak kita tidak bodoh secara permanen? Siapa dong yang rugi!.

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan anak kita menjadi bodoh? Bener gak ya ada orang bodoh secara permanen? Yup, pertanyaan yang keren sekali. Pada dasarnya semua orang dilahirkan itu bodoh, dalam artian belum bisa apa-apa. Ya ada sih orang yang begitu lahir sudah pandai dan bisa ngomong seperti halnya nabi Isa a.s, tapi itu tidaklah umum. Kita bahas yang umum-umum saja. Bagi para orang tua atau siapa sajalah yang memiliki anak bodoh, sulit menerima pengajaran, ada baiknya kita koreksi diri, jangan langsung menyalahkan anak, membentak-bentak anak.

• Koreksi diri, siapa tahu mereka menjadi bodoh karena keteledoran kita dalam membimbingnya, atau mungkin kita yang salah dalam membesarkannya. Semisal anak dibiarkan bergaul dengan teman-temannya yang nggak mau sekolah, akibatnya anak kita juga ikut nggak sekolah. Komunitas itu mendukung pribadi seseorang untuk mengikuti trend komunitasnya.

• Koreksi diri, siapa tahu cara kita dalam memberinya makan salah atau berasal dari barang-barang yang haram. Makanan yang berasal dari barang-barang yang haram akan dikonsumsi anak kita dan menjadi darah haram yang mengalir kesekujur tubuh sampai keotaknya, sehingga menjadikan anak sulit menerima pelajaran dan didikan dari orang tua maupun guru disekolahnya.

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (Q.S. Al-Baqarah: 172)

• Koreksi diri, apakah makanan yang anda berikan sudah memenuhi kadar gizinya. Gizi juga mempengaruhi tingkat kecerdasan otak anak. Sangatlah berbeda anak yang gizinya cukup dengan yang tidak. Anak yang gizinya cukup cenderung pertumbuhannya cepat, syarafnya sehat, dan psikisnya baik. Sedangkan anak yang kurang gizi cenderung lemah, pertumbuhannya lambat, syaraf motoriknya terganggu, akibatnya mereka lambat menerima pengajaran. Orang yang lemah dalam menerima pengajaran muaranya pada kebodohan dan sering kali kebodohan memberi dampak kemiskinan. Asisten Utusan Khusus Presiden RI untuk Milenium Development Goals (MDGs), Diah Saminarsih mengatakan bahwa pengentasan kemiskinan dan pemenuhan gizi harus dilakukan bersamaan. Memperdebatkan mana yang lebih penting sama saja mempertanyakan mana yang lebih dulu ada, telur atau ayam. Ini menandakan bahwa gizi yang cukup juga mendorong peningkatan kecerdasan anak.

• Koreksi diri, sudah anda berdoa seraya memohon kepada Allah SWT agar anak anda diberi kemudahan dalam menuntut ilmu. Diceritakan bahwa sebagian orang-orang salaf dahulu pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan memperbaiki shalatku agar engkau mendapatkan kebaikan.” Sebagian ulama menyatakan bahwa makna ucapan itu adalah aku akan memperbanyak shalatku dan berdoa kepada Allah untuk kebaikanmu.

Jadi bodohnya anak-anak kita 100 % bukan kesalahan si anak, tetapi bisa juga karena kesalahan orang tuanya. Sebodoh-bodohnya anak kita, kalau orang tuanya masih mau membimbingnya dengan tekun saya kira masih ada harapan untuk bisa menjadi anak yang pandai. Kalau pun nggak pandai dan menyandang peringkat kelas atau siswa terbaik, minimal anak anda bisa membaca dan menulis. Sehingga istilah bodoh permanen itu tidak ada. Kita ambil tamsil dari tukang besi. Tukang besi setiap hari mampu membentuk berbagai macam barang seperti : pisau, pedang, keris. Tahukah anda dari apa bahanya, bagaimana proses pembuatannya? Ternyata pisau, pedang, keris yang banyak anda jumpai berbahan besi tua atau baja yang masih utuh, kemudian melalui proses pembakaran dan penggemblengan barulah besi atau baja tadi terbentuk sesuai selera si tukang besi. Sama halnya anak yang bodoh adalah laksana besi atau baja tadi. Anak yang bodoh kalau dibiarkan begitu saja, maka dia akan semakin bodoh atau bodoh permanen, tetapi bila anak yang bodoh itu dididik dengan tekun, dikarantina khusus dalam suatu proses penggemblengan pengajaran, maka perlahan tapi pasti dia akan jadi anak yang pandai.

Minggu, 11 Maret 2012

Bapak Bilang Tuhan Memanggilku


Ini adalah cerita masa kecilku dua puluhan tahun yang lampau. Saya terlahir dari keluarga sederhana golongan ekonomi menengah kebawah. Nyentrik, ndeso merupakan potret alami kehidupanku sebagai anak yang hidup dimasyarakat pedesaan yang masih lugu, apa adanya, kental dengan etika dan norma-norma budaya orang jawa, dendang syiar-syiar islami pun masih akrab menghiasi rumah-rumah penduduk. Sebagai anak yang kala itu masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, kegiatan keseharianku adalah sekolah, bermain dan tak jarang juga membantu meringankan beban orang tua. Ya tentu membantu dengan sekedarnya saja, namanya juga anak kecil nalurinya belum pada pekerjaan tetapi belajar dan bermain-main. Meskipun begitu antara belajar, membantu orang tua dan bermain tidaklah membuatku letih, capek dan membosankan. Justru dari semua itu perlahan membawaku menjadi anak yang ceria dan gembira. Meskipun waktu itu hiburan dan permainan tidak seperti zaman sekarang yang penuh dengan aneka ragam hiburan, ada playstation, televisi, video, HP dan komputer. Jangan Playstation, televisi saja masih hitungan jari orang yang punya, itu pun masih TV hitam putih yang chanelnya cuma ada TVRI saja, belum ada listrik, jadi masih menggunakan energy Aki. Namun nuansa kebersamaan dan rasa solidaritas sosial terbangun rapi. Betapa tidak, satu RT yang punya TV Cuma satu orang, jadi para tetangga ya ngumpul jadi satu lihat siaran tivi. Rukun, damai dan ceria selalu menyelimuti kesederhanaan hidup orang desa waktu itu. Meskipun pendidikan juga belum maju seperti sekarang ini, meskipun cahaya penerangan belum seterang sekarang, karena listrik belum masuk desa dan hanya menggunakan lampu uplek yang terbuat dari bekas kaleng susu yang diberi sumbu dan minyak tanah sebagai penerangan, namun nuansa pembelajaran dan pengajian begitu gemuruh berkumandang dimasjid dan dimusholah-mushollah. Kebetulan didepan rumahku ada sebuah mushollah yang sengaja dibangun oleh warga sekitar sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an, jadi setiap habis magrib ramai anak-anak dan remaja yang belajar ngaji disitu, satu persatu antri menunggu giliran ngaji sama pak Haji Samsuri sambil ada yang bertugas memegang lampu uplek agar kelihatan terang, sebab kalau lampu upleknya ditempel di dinding cahayanya remang-remang dan dibuat membaca Al-Quran jadinya kurang jelas, makanya harus ada yang bergantian memegangi lampu tersebut. Keadaan yang teramat ndeso itulah nampak nuansa kedamaian yang sangat menyejukkan hati dengan suasana yang alami dan jauh dari kebisingan hidup.
Ternyata dibalik ndesonya orang jawa, mempunyai teladan hidup yang sangat berbudi, mempunyai kebiasaan hidup yang mulia dan berarti didalam menapaki kehidupannya sehari-hari. Teringat selalu pada masa kecilku, dimana bapakku memberi teladan kongkrit buatku. Waktu itu sehabis pulang sekolah, saya diajak teman-teman bermain layang-layang tak jauh dari rumahku, apalagi saya punya layang-layang model ikan-ikanan yang dibuatkan sama bapak, tentu saya semangat dan ceria sekali bermain layang-layang. Disaat-saat asyiknya bermain, tak terasa adzan ashar pun berbunyi, dari jauh bapak memanggilku dengan logat jawanya yang khas “manthuk nak, mene mane dolenane, tuh adzar ashar, ayo nderek bapak sholat kemasjid”. (pulang nak, besok lagi bermainnya, tuh adzan ashar, ayo ikut bapak sholat kemasjid). Saya pun segera menurunkan layang-layangku dan bergegas pulang. Sesampai dirumah saya segera mandi dan berpakaian untuk sholat ashar, dengan dibonceng bapak memakai sepeda onthelnya yang sudah tua, kami berdua menuju masjid untuk menunaikan sholat ashar berjama’ah. Selesai sholat, kami pun pulang dan duduk-duduk santai diamben kecil depan rumahku sambil menatap kelangit memandang keindahan layang-layang temanku yang masih dimainkan. Disela-sela waktu santaiku, bapak memberi wejangan sederhana kepadaku. Sambil kurebahkan kepalaku dipangkuannya bapak mengatakan bahwa, kehidupan dunia itu Cuma sebentar, kalau kehidupan yang sebentar itu kita sia-siakan, tentu dikehidupan yang akan datang kita akan mengalami kerugian. Karena itu kamu boleh bermain, tetapi kalau sudah terdengan bunyi suara adzan, hentikan mainanmu dan bergegaslah untuk melaksanakan sholat. Adzan berkumandang itu tandanya bahwa Allah SWT sedang memanggilmu agar sesegera mungkin kamu menghadapnya, kamu bersujud kepada-Nya, silahkan kamu memohon ampun dan berkeluh kesah kepada-Nya. Sungguh mulia sekali bagi orang-orang yang sejenak mau berfikir bahwa dirinya dimuliakan oleh Tuhannya. Sehari-semalam lima kali Allah SWT memanggil kita, coba bayangkan Dzat yang perkasa dan maha kuasa yang tanpa kita sembah pun tak akan berkurang keperkasaannya. Yang tanpa kita puja pun Dia tetap raja diraja dialam semesta.
Kini saya sudah besar baru merasakan begitu besarnya kasih sayang seorang bapak pada anaknya, mendidik anak tanpa menekan fisik dan kejiwaanya, mendidik tanpa merenggut hak bermain anaknya. Sungguh teladan yang begitu santun dan berakhlakul karimah. Teringat kisah Luqmanul Hakim seorang hamba yang namanya diabadikan oleh Allah SWT dalam kita suci Al-Qur’an, pada hal kita semua mengetahui bahwa dia bukanlah seorang nabi dan rasul, melainkan hanyalah seorang manusia biasa. Namun dia dikenal sebagai seorang bapak yang mempunyai teladan mulia terhadap anaknya. Dizaman sekarang banyak orang tua pontang panting mengejar harta dan kemewahan dunia untuk warisan buah hatinya. Seorang anak didik dan disekolahkan setinggi mungkin bukan bertujuan untuk memperbaiki akhlak dan budi pekertinya, namun bagaimana dengan pendidikan yang tinggi itu nantinya anak dapat memperoleh pekerjaan yang gajinya besar. Banyak orang tua yang lebih menyuruh anaknya mengenyam pendidikan kejuruhan semacam STM, SMEA atau SMK yang prospek masa depannya cerah menurutnya dibanding ke Madrasah Aliyah apalagi kepesantreen. Berbeda halnya dengan Luqman, dia tidak mewariskan harta atau benda tetapi petuah yang sangat bijak dan luhur nilainya. Diriwayatkan dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 13-19 yang inti nasehatnya diantaranya :
1. Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah), sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
2. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.
3. Jangan melakukan perbuatan kemaksiatan.
4. Selalu berbuat baik walau sekecil apapun.
5. Jangan pernah lalai dalam mengerjakan shalat, senantiasa menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemunkaran, serta selalu bersabar dalam setiap kondisi.
6. Membuang sikap sombong yang ada dalam diri.
7. Selalu rendah hati dan tidak mengucapkan kata-kata kasar.

Tentu dalam hal ini saya tidak dimempersamakan bapak saya laksana Luqman memberi teladan pada anaknya. Saya juga tidak membandingkan bapak saya sebagaimana layaknya orang-orang yang berpendidikan tinggi seperti doktor, profesor, jangankan sarjana, setingkat Mts/SMP saja tak pernah, hanya notok SR (sekolah Rakyat) pendidikannya. Tapi sebagai seorang anak, saya sangat bangga terhadap bapak saya, meskipun tak menyandang gelar S-1, S-2, S-3 atau eS teh kali ya, namun wujud kasih sayangnya tak bisa diukur dengan kata-kata, cara mendidik anak agar santun dan berbudi luhur sungguh sangat luar biasa. Meskipun bapak saya hanya buruh tani dan menggembala sapi, namun beliau berkomitmen tak akan membiarkan anaknya tak mengenyam pendidikan sama sekali. Terbukti saya empat bersaudara ketiga saudara perempuan saya, 2 diantaranya alumni pondok pesantren, satunya lagi lulus Madrasah Aliyah dan saya sendiri sebagai anak terakhir dan laki-laki sendiri mampu menempuh jalur pendidikan strata-satu. Kalau dipikir-pikir dengan penghasilan sebagai buruh tani dan penggembala sapi yang sangat jauh dari kata mencukupi, jangankan buat biaya anak sekolah, buat makan saja kadang masih ngutang sana sini. Namun kuasa Allah SWT selalu berpihak pada hambanya yang selalu gigih berusaha, wal hasil Allah memberikan jalan keluar yang tak pernah kita sangka-sangka.
Kini semuanya sudah dewasa, sudah berumah tangga. Sa’atnya kita membalas budi baik kedua orang tua. Ibu yang sembilan bulan mengandung kita, merawat dan mendidik kita hingga kita dewasa, Bapak yang gigih berjuang mencari nafkah buat keluarga, tak kenal lelah dan putus asa meskipun harus dihadapkan dengan gali lobang tutup lobang demi kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan putra-putrinya. Sudah sewajarnya kita bikin tersenyum beliau berdua, sudah sewajarnya kita harumkan namanya, sudah sewajarnya kita hiasi masa tuanya dengan kebahagian yang istimewa.
Saya pun mengajak kepada para pembaca, khususnya bagi yang sudah menjadi orang tua, tanamkanlah putra-putri kita bagaimana cara berakhlaq mulia. Berikan hak anak kita untuk mengenyam pendidikan, berikan haknya untuk bermain, tapi jangan lupa, mari kita didik anak kita untuk rajin beribadah, menunaikan sholat tepat pada waktunya, tanamkan dalam hatinya bahwa dengang kebesaran-Nya yakni berkumandangnya suara adzan adalah merupakan panggilan Tuhan kepada seluruh hamba untuk sejenak meluangkan waktu bercengkerama dengan-Nya. Wujudkan generasi yang islami dan mari menjadi teladan buat putra dan putri kita, kalau bukan kita, lantas siapa?

Minggu, 04 Desember 2011

Jangan Tangisi Susu Yang Tumpah Kemarin

Jangan Tangisi Susu Yang Tumpah Kemarin
Ada sebuah ungkapan klasik berbunyi: “Di dunia ini, sebenarnya, tiada sesuatu yang baru!” Sekiranya kita melihat dari segi tabiat, keinginan dan perwatakan manusia, sejak dahulu hinggalah sekarang ini, maka ungkapan di atas amat tepat. Manusia memang mempunyai tabiat dan kecenderungan yang sama, yang itu juga: ada persahabatan dan perselisihan, ada kezaliman dan ada pula keadilan, ada saat berdamai dan ada ketikanya berperang. Malah, ada bangsa yang bangun dan maju, ada pula bangsa yang jatuh tersungkur. Begitu jugalah dengan tamadun serta peradabannya.

Allah SWT menyeru manusia supaya mengambil pengajaran dari peristiwa lalu, kejadian dan peristiwa yang sudah dilalui oleh umat terdahulu. Dari sini jelaslah bahawa kehidupan manusia merupakan streotaip, suatu pengulangan dari yang sudah pernah ada atau dialami umat yang sebelum kita. Apa yang kita hadapi sekarang sudah pernah dilalui oleh umat atau generasi yang sebelum kita, dan ini juga akan dialami oleh generasi yang selepas kita nanti. Jadi kita dituntut supaya mengambil pengajaran dari peristiwa lampau atau kejadian pada generasi terdahulu, supaya kita dapat memperbaiki keadaan yang sedang dan akan berlaku.

Allah SWT berfirman:
Maka ambil iktibar (pengajaran), wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan. (59: 2)

Begitu manusia berganti dan masa berubah, namun watak dan kecenderungannya tetap juga serupa. Maka, memandang ke belakang, sejarah manusia yang panjang itu, melahirkan kebijaksanaan. Cara ini akan dapat menembus masa lalu sambil memperhatikan pelbagai peristiwanya, membahas nasihat-nasihatnya, dan mengambil bekal dari percubaan-percubaan orang-orang terdahulu, lalu kita tahu bagaimana mereka menjauhkan diri mereka dari kesesatan. Inilah pandangan seorang mukmin yang bijaksana.

Allah SWT berfirman, yang maksudnya: Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? Kerana, sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (22:46)

Seandainya kita menyempatkan diri membolak-balik lembaran Al-Quran nescaya kita akan banyak menjumpai kisah yang sengaja Allah abadikan di dalamnya untuk tatapan manusia seperti kita, yakni yang berkenaan dengan kejadian-kejadian pada masa lalu, termasuklah di dalamnya pengalaman yang dilalui orang-orang yang bertakwa, juga akibat yang ditanggung oleh orang-orang yang berbuat dosa. Pendek kata, pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Kesenuanya dijelaskan dan dibentangkan oleh al-Quran di hadapan kita dengan jelas supaya kita mahu dan bersedia memperhatikan dan memikirkannya.

Allah s.w.t. berfirman, yang maksudnya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi ia membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (12: 11)

Kalaulah kita benar-benar ingin menjadi manusia yang mengenali inti kemanusiaan, maka seharusnya kita bersedia mengarahkan pandangan kita ke pangkuan sejarah. Menerusi kejadian yang benar dan batas-batas yang jelas inilah seharusnya kita pelajari masa lampau itu. Mengimbas kembali waktu lampau itu bukanlah untuk memperbaharui rasa sedih atau mengungkit luka lama hingga berdarah semula, atau berputar di sekitar tragedi yang menyakitkan hati kita, lalu kita berkata: sekiranya, seandainya atau kalaulah dan sebagainya. Kata-kata seperti ini sangat dibenci oleh Islam. Bahkan, sikap ini merupakan resmi atau kebiasaan orang-orang munafik dan yang di dalam hatinya ada penyakit.

Dale Carnegie mengatakan hal yang benar, dan saya mengerti hal tersebut, tetapi apakah kita memiliki keberanian yang cukup untuk melakukannya? Kemudian beliau melanjutkan:
“Apabila sampai pada suatu pagi, semua murid dalam kelas disuruh masuk ke makmal. Tidak berapa lama setelah itu, Mr. Brandwine datang dengan membawa segelas susu yang kemudian diletakkan di atas meja yang ada di hadapannya. Kami semua memandang ka arah gelas yang berisi susu itu dan bertanya-tanya dalam hati: Apa pula gerangan hubungan susu dalam gelas itu dengan pelajaran yang akan diterangkannya kali ini? Mr. Brandwine berdiri serta merta dari kerusinya, lalu tangannya tersentuh gelas berisi susu tersebut hingga ia jatuh berkecai dan isinya tumpah ke tanah. Kemudian, dengan suara yang hampir berteriak, beliau berkata kepada kami:
"Jangan tangisi susu yang tertumpah!”
“Kemudian ia meminta kami semua melihat pecahan-pecahan gelas dan cairan susu yang telah meresap ke dalam tanah itu, lalu ia berkata: “Cuba lihat baik-baik, saya ingin kamu meresapkan pelajaran ini kedalam hati untuk selama-lamanya. Susu tadi telah hilang seperti yang kamu lihat, meresap kedalam tanah. Tidak ada satu kekuatanpun yang mampu mengembalikannya walau hanya setitis. Barangkali, jika kita mahu berfikir dan berhati-hati, mungkin kita dapat mengelakkan kejadian tersebut, tetapi kini segalanya telah terlambat. Apa yang dapat kita kerjakan sekarang adalah melapnya dan melupakannya. Lalu, kita teruskan pekerjaan lain yang masih tersisa, yang perlu diselesaikan.

Alangkah tepatnya pengajaran tersebut, dan hal yang hampir sama disebut dalam hadis yang berikut ini: Minta tolonglah kepada Allah dan jangan menjadi lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu maka janganlah mengatakan: “Seandainya aku mengerjakan begini maka akan menjadi begitu!” Tetapi katakanlah: “Itu semua adalah takdir Allah, apa yang dikehendaki-Nya dibuat-Nya.” Sebab, perkataan: “seandainya…” itu akan membuka pintu buat syaitan.
Keberanian untuk melepaskan masa lalu, maka kita, dengan izin Allah, mampu meneruskan perjalanan hidup kita dengan penuh semangat dan harapan semoga di lain kali berjaya.

MENAHAN AMARAH

MENAHAN AMARAH
Oleh : Nasher Akbar
”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali-Imron: 133-134).Amarah merupakan tabiat manusia yang sulit untuk dikendalikan. Dan, Allah menjadikan orang yang mampu untuk menahan amarahnya sebagai salah satu ciri orang yang bertakwa. Di samping itu Allah akan memberikan pahala kepada orang yang menahan amarahnya lalu memaafkan mereka yang menyakitinya. Allah berfirman, ”Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syuura: 40).Abu hurairah meriwayatkan bahwa pada suatu hari, seorang lelaki mendatangi Rasulullah SAW. Ia berkata kepada beliau. Ya Rasulullah! Nasihatilah saya! Sabdanya, ”Janganlah engkau marah.” Lalu beliau ulangkan beberapa kali, dan sabdanya, ”Jangan engkau marah.” (HR Bukhori).Penekanan Rasulullah SAW di atas menunjukkan betapa pentingnya menahan amarah. Karena ia adalah penyebab terjadinya pertikaian, perpecahan, dan permusuhan. Dan bila ini terjadi, maka akan membawa dampak negatif kepada umat Islam. Oleh sebab itu pula, Islam tidak membenarkan seorang Muslim untuk saling bertikai dan saling berpaling satu sama lain melebihi dari tiga malam. Sahabat Abu Bakar ra pernah mendapatkan teguran dari Allah SWT karena kemarahan yang dilakukannya dengan bersumpah untuk tidak memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri Aisyah. Allah berfirman, ”Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat-(nya). Betapa indahnya dunia ini, jika setiap orang berusaha menahan amarahnya. Pertikaian, kerusuhan, permusuhan di mana-mana tidak akan terjadi. Karena kejahatan yang dibalas dengan kejahatan tidaklah memberikan solusi, namun menambah persoalan dan memperpanjang perselisihan.
Sumber : Republika

ARTI CINTA DAN DICINTAI

ARTI CINTA DAN DICINTAI
Sangatlah menyakitkan mencintai seseorang, tetapi tidak dicintai olehnya. Tetapi lebih indah untuk mencintai dan tidak pernah menemukan keberanian untuk memberitahu mereka apa yang kamu rasakan.

Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu dengan yang tepat. Jadi ketika kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat, kita akan tahu betapa berharganya anugerah tersebut.

Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan, kesabaran dan romantis dalam suatu hubungan dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi. Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang lain terbuka. Tetapi kadang-kadang kita menatap terlalu lama pada pintu yang telah tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka untuk kita.
Teman yang terbaik adalah teman dimana kamu dapat duduk bersamanya dan merasa terbuai, dan tidak pernah mengatakan apa-apa dan kemudian berjalan bersama. Perasaan seperti itu adalah percakapan termanis yang pernah kamu rasakan. Benarlah bahwa kita tidak tahu apa yang kita dapatkan sampai kita kehilangan itu ?? Tetapi benar juga bahwa kita tidak tahu apa yang hilang sampai itu ada.

Memberikan seseorang semua cintamu tidak pernah menjamin bahwa mereka akan mencintai kamu juga !!! Jangan mengharapkan cinta sebagai balasan, tunggulah sampai itu tumbuh didalam hati mereka. Tetapi jika tidak, pastikan dia tumbuh didalam hatimu
Ada hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang dari mereka kamu ingin dengar. Tetapi jangan sampai kamu menjadi tuli walaupun kamu tidak mendengar itu dari seseorang yang mengatakan itu dari hatinya.

Jangan pernah berkata selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kamu merasa masih dapat maju. Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi bila kamu tidak bisa membiarkannya pergi. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.

Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang tetapi membutuhkan seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu. Jangan melihat kekayaan, itu bisa menghilang. Datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum karena sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah. Berharaplah kamu dapat menemukan seseorang yang dapat membuatmu tersenyum. Ada saat di dalam kehidupanmu dimana kamu sangat merindukan seseorang, kamu ingin mengambil mereka dari mimpimu dan benar-benar memeluk dia.

Berharaplah bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia, yang berarti mimpilah apa yang ingin kamu mimpikan, pergilah kemana kamu ingin pergi, jadilah sesuai dengan keinginan kamu, karena kamu hanya hidup sekali dan satu kesempatan untuk melakukan apa yang kamu inginkan.
Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup cobaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu bahagia.

Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain. Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu, :mungkin itu menyakitkan orang itu juga. Kata-kata yang ceroboh dapat mengakibatkan perselisihan, kata-kata yang kasar bisa membuat celaka, kata-kata yang tepat waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan menyenangkan. :Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak membentuk mereka menjadi sesuai keinginan kita.

Dengan kata lain kita mencintai bayangan kita yang ada pada diri mereka. Orang yang bahagia tidak perlu memiliki yang terbaik dari segala hal. Mereka hanya membuat segala hal yang datang dalam hidup mereka menjadi yang terbaik.

AKAN DATANG SUATU ZAMAN

AKAN DATANG SUATU ZAMAN
Akan datang suatu hari … Mulut terkunci … Kata tak ada lagi … Akan tiba masanya … Tak ada lagi suara dari mulut kita dan akan tiba masa hari perhitungan semua amal dan dosa. Allah menjelaskan pada kita “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (Q:S Yassin,65). Dengan perintah Allah malaikat maut bisa tamatkan cita-cita manusia yang mempunyai sejuta impian yang hebat dengan MATI… Maut akan mengantar manusia dari mahligai yang tinggi ke lubang kubur perut bumi. Tidak ada lagi kawan-kawan sebaliknya terperangkap dalam kesunyian yang menakutkan sampai hari berbangkit. …. Jika kita selalu terlupa pada hari kita mati, maka saatnya kita mulai sadar dan insaf untuk apa kita hadir di permukaan bumi ini.

5 Artikel TerPopuler

5 Artikel TerPopuler
"Manusia tidak jatuh 'ke dalam' cinta, dan tidak juga keluar 'dari cinta'. Tapi manusia tumbuh dan besar dalam cinta". Cinta, banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta.

Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Teringat kisah Bandung Bondowoso yang tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sangkuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata –bata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, jika mungkin.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, bagaimana dengan cinta kita? Wallaahu A'lam.

JALINAN UKHUWAH
Aku sebenarnya ragu mau menulis tentang ini, karena aku sadar akan kedangkalan ilmuku, tapi satu sisi, ini terus merongrong otakku, dari pada penasaran aku tulis aja trus aku upload di bulletin, berharap temen2 mau berbagi ilmu, berbagi pengetahuan dengan ku, pokoknya saran, kritik, masukan bahkan hujatan aku tunggu…..

Ini adalah tentang pergolakan terhadap aliran yang ada di Indonesia maupun dunia seperti NU, Muhammadiyah, Sunni, Syiah, dll. Aliran yang aku komentari nanti aku batasi pada aliran-aliran yang masih berpagarkan pada Ahlussunnah Wal Jamaah. Diluar itu aku tidak peduli, karena sesuai dengan hadist Rasul bahwa islam akan terpecah menjadi banyak golongan dan yang masuk syurga hanya Ahlussunah Wal Jamaah. NU, Muhammadiyah, Sunni, Syiah aku fakir masih masuk dalam criteria Ahlussunah Wal Jamaah.

Banyak diantara kita yang beranggapan bahwa aliran-aliran kita adalah yang paling benar, itu sah-sah saja dan memang seperti itu harusnya menurutku, tapi yang jadi masalah adalah ada diantara kita yang kemudian memfonis bahwa aliran diluar kita salah (secara keseluruhan) inilah yang menurutku tidak benar, kenapa:

Pertama dengan pemahaman yang seperti itu sama halnya kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang riya’, sombong, takabur dan ini fatal, saya ingat hadist Rosulullah. Bahwa “riya’ itu seperti api membakar kayu bakar” (aku lupa siapa pe-Rawi-nya, kasih tahu ya kalau ada yang tahu, makasih) diluar tentang ke-shasihan hadist ini, ini merupakan sebuah perumpamaan yang sangat ngeri, bayangkan kalau kita menanam pohon selama 20 tahun, mungkin yang kita dapat hanyalah pohon dengan diameter batang sekitar 15 s/d 20 cm, tapi kemudian kalau kayu itu sudah kering dan menjadi kayu bakar. Lalu kita bakar mungkin hanya beberapa jam saja habis.. 20 tahun habis dalam beberapa jam saja..

Yang ke-dua, aliran seperti NU, Muhammadiyah, Sunni dan Syiah, itu menurutku hanya Organisasi kemasyarakatan, dan hadir setelah jaman Rasulullah meninggal, meskipun ada beberapa ritual ibadah yang berbeda. Saya belum pernah membaca dalam Al Qur’an maupun Hadist, yang menyatakan bahwa yang masuk syurga golongan tertentu, yang ada adalah orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah orang yang bertakwa, ini yang perlu digaris bawahi.

Menurutku dari pada kita terus bergelut dan memikirkan aliran mana yang benar dan yang salah, lebih baik kita melihat kedalam hati kita, seberapa besar tingkat ketakwaan kita (ini dasar).

Kalau ketakwaan sudah menjadi tolok ukur dalam setiap langkah maupun setiap kita menjalankan ibadah kita saya yakin kita akan masuk syurga, apapun aliran kita mau sholat sedekap diatas dada maupun di perut, tarawih 20 rakaat maupun 8 rakaat. Tidak ada bedanya.

Toh sebenarnya Allah sudah memberikan sebuah rumus pasti, seperti rumus matematika 1+1=2, 1+2=3 tidak ada 1+1=4, 1+3=5, rumus itu adalah “As Sholatu’ Tanha Anil Fahsa’I Wal Munkar” Sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, dalam artian bahwa Sholat yang dilakukan secara bener-bener, Sholat yang bener-bener dari hati, Sholat yang dilandasi dengan ketakwaan kepada Allah, akan kelihatan dalam setiap tingkah laku kita.

Sebagai pendukung pendapat saya diatas, sekarang saya tanya: adakah orang NU yang bejat ? pasti ada, adakah orang Muhammadiyah bejat ? pasti juga ada, begitu juga Syiah dan Sunni, sebaliknya adakah orang NU yang baik ? pasti banyak, adakah orang Muhammadiyah yang baik ? pasti juga banyak, begitu juga Sunni dan Syiah.

Berarti bukan cara Sholat-nya (Aliran-nya) tapi kembali kepada individu masing-masing, yang bejat berarti Sholatnya salah, meski gerakannya bener, yang baik berarti Sholatnya juga bener. As Sholatu’ Tanha Anil Fahsa’I Wal Munkar”

Begitu kira-kira pendapatku mohon petunjuk..

Hanya Allah yang maha benar, dan maha luas ilmu-Nya..