Jumat, 07 Maret 2014

Ikhtiar mencari cinta

Ketika diajukan pertanyaan, adakah diantara anak muda yang tak ingin bercinta? Saya yakin kita sepakat bahwa 99% anak muda menjalin hubungan cinta. Karena cinta itu laksana ruhnya jiwa yang menyebar keseluruh asupan darah dalam tubuh manusia yang memproduksi spirit dan gairah bagi manusia, sehingga dengan spirit dan energi kekuatan cinta, mereka yang lemah akan bangkit menjadi perkasa. Mereka yang sedih menjadi gembira. Mereka yang tua berlagak muda, pun dengan cinta, dunia yang penat dan bising terasa indah. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Cinta adalah anugerah super istimewa dari yang kuasa yang ditambatkan dihati hamba-hamba-Nya. Sobat muda, didunia ini banyak orang sukses karena dirinya bercinta, sehingga dengan cinta itu, ia menjadi semangat dan termotivasi tinggi untuk menggapai cita-cita yang diimpikannya. Tetapi juga tidak sedikit orang yang merana karena cinta, putus asa karena cinta, hidupnya hancur berantakan juga karena cinta. Menanggapi kenyataan seperti itu, maka kita harus berhati-hati dengan cinta. Ya, cinta memang indah, akan semakin indah bila cinta kita taburkan dihati kekasih yang beriman dan bertaqwa. Ya, cinta memang fitrah, akan semakin suci bila cinta itu kita tanamkan pada kekasih hati yang memiliki sifat terpuji. Tetapi awas, waspadalah bahwa cinta juga bisa berbuah duri bila mana cinta ditanamkan pada hati orang-orang yang tidak mempunyai etika dan nurani. Ada sebuah riset yang menyebutkan bahwa banyaknya kasus perzinaan belakangan ini disebabkan karena faktor percintaan atau pacaran. Ya. Saya setuju dengan pendapat itu, karena melihat gejolak zaman sekarang ini, banyak remaja yang melakukan pacaran dan melampiaskan cinta kasihnya pada jalan kesesatan yang tidak dibenarkan oleh syar’i. Mereka cium-ciuman, peluk-pelukan bahkan ada yang nekat melakukan hubungan badan. Ini sangat membahayakan. Bagaimana kalau hal semacam ini menular pada remaja yang lain, bisa-bisa sepuluh sampai dengan dua puluh tahun yang akan datang, sulit kita jumpai remaja-remaja putri yang masih perawan. Apalagi hasil survey yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak di 12 kota besar di Indonesia pada tahun 2007 menunjukkan bahwa 62,7% remaja yang duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) pernah berhubungan intim dan 21,2% siswi SMA (Sekolah Menengah Atas) pernah menggugurkan kandungannya. Jadi rata-rata kasus kenakalan remaja disebabkan oleh adanya hubungan percintaan. Lantas adakah yang salah dengan cinta? Yang salah bukan cintanya, karena hakikat cintah itu fitrah, dan hadirnya cinta sesungguhnya sebagai penentram kehidupan manusia, bukan sebagai pemuas nafsu dan hura-hura. Tetapi letak kesalahannya ada pada pelakunya yang menodai kesucian cintanya dengan lebih menuruti nafsu birahinnya. Sobat muda. Ada beberapa alasan mengapa anak muda termotivasi dengan berpacaran atau bercinta kasih. Pertama, mereka bercinta karena menginginkan dapat jodoh yang tepat dengan mengetahui latar belakang, sikap dan kebiasaan hidup orang yang dicintainya. Kedua, mereka menjalin cinta karena menginginkan adanya seseorang kekasih yang dapat memberikan semangat dan motivasi dalam melakukan segala aktifitas sehari-hari. Konon dengan bercinta, gairah kerja dan beraktifitas menjadi giat dan perkasa. Ketiga, mereka bercinta karena ingin melampiaskan hasrat birahinya. Nah, dari ketiga alasan diatas kiranya anda dapat menentukan arah seperti apakah bentuk cinta yang akan anda inginkan. Pilihan ada ditangan anda sendiri. Apabila memilih type yang pertama juga mengandung resiko. Memilih pilihan yang kedua pun ada resikonya, apalagi memilih pilihan yang ketiga, jelas resikonya bukan hanya dikehidupan dunia saja melainkan kehidupan akhirat anda pun ikut celaka. Kog beresiko semua, kalau gitu ngapain Allah menciptakan rasa cinta? Hemm, sabar brow, dengar dulu uraian berikutnya. Gini ya, jika kita amati, dari ketiga alasan diatas, sepertinya alasan pertama yang resikonya dinilai agak mendingan, karena tujuan mereka bercinta semata-mata karena menginginkan mendapatkan pasangan hidup yang benar-benar cinta dan sayang kepadanya, sehingga kalau nggak pake pacaran, jangan-jangan ia tidak mengerti latarbelakang kehidupannya, tabiat, sikap dan perilakunya sehari-hari, makanya ia memilih menjalin hubungan pacaran. Sebab apabila seseorang sudah kadung cinta dan pada pandangan pertama tanpa mengenal lebih mendalam tentang kehidupan orang yang dicintainya, khawatir akan menyesal. Iya kalau ketepatan pacarnya orang baik-baik, nah kalau tidak, pasti akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari nanti, walaupun sebenarnya itu sudah merupakan pilihan hatinya sendiri. Tetapi yang menjadi pertanyaan, bolehkah kita menjalin cinta atau berpacaran seperti alasan yang pertama tadi? yups, manteb sekali. Pada dasarnya agama tidak melarang manusia untuk bercinta kasih, malahan dengan tegas agama menganjurkan manusia agar saling cinta dan kasih diantara sesamanya. Hal ini didasarkan pada hadist Rasulullah SAW yang berbunyi: “Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.(H.R. Muslim). Semakin seseorang menebarkan cintanya kepada sesamanya, akan sempurna keimanannya, tali siraturrahim terjalin kuat dan persaudaraan menjadi harmonis. Terus mengenai boleh atau tidaknya kita berpacaran dengan alasan ingin mengetahui sisi baik dan buruknya orang yang kita cintai. Yang jelas dalam pandangan agama, istilah pacaran itu tidak ada. Bahkan ada yang menghukumi pacaran itu haram. Tetapi agama mengajarkan kepada umat manusia, jikalau hendak mencari cinta (mencari pasangan), maka bukan dengan jalan pacaran, melainkan dengan cara Ta’aruf. Kita diperbolehkan mencintai seseorang dan mengungkapkannya kepada orang yang kita cintai. Namun alangkah baiknya sebelum anda mengungkapkan cinta pada seseorang tadi, selidiki dulu latar belakang dan sikap perilakunya sehari-hari. Bisa nanya-nanya lewat teman dekatnya, saudaranya atau tetangga-tetangga dekatnya. Jika sudah mendapatkan informasi yang jelas, baru nyatakan perasaan cinta. Silahkan berta’aruf, dan sampaikan segala tetek bengek dan unek-unek hati yang ingin anda tanyakan. Bila setelah berta’aruf sudah ada kecocokan, lanjutkan dengan mengkhitbahnya, kemudian nikahi. Ini baru jempolan brow!. Jadi, mencari kekasih yang baik yang dibenarkan oleh syar’i bukan dengan jalan pacaran, melainkan dengan jalan ta’aruf. Ini berarti alasan bercinta type yang pertama tadi, tidak dibenarkan secara agama, meskipun maksudnya baik. Karena dengan berpacaran, sedikit maupun banyak ada unsur mendekati zina. Bagaimana dengan type alasan yang kedua dan ketiga? Hemm, alasan yang pertama saja tidak dibenarkan menurut syar’i, apalagi alasan yang kedua dan ketiga, jelas malah bertentangan dengan ajaran agama. Alasannya apa dong? Kalau alasan anda bercinta atau pacaran hanya ingin mendapatkan dorongan motivasi dari sang kekasih, kenapa harus dengan jalan pacaran? Seharusnya anda nikah saja. Karena dengan nikah anda akan mendapatkan seorang kekasih hati yang 24 jam siap melayani dan mensuport anda. Berbeda halnya jika mencari motivasi belajar ataupun bekerja dengan pacaran, karena anda belum tentu setiap hari bertemu, kalaupun bertemu, dengan menikmati pandangan wajah kekasih anda, itu merupakan bagian dari zina lho. Terus mengenai alasan yang ketiga, kayaknya nggak perlu diperdebatkan dehh, sebab bercinta hanya dengan mencari kesenangan itu merupakan sebuah kesalahan fatal dan anda sedang coba-coba bermain api. Artinya bahwa anda secara sengaja ingin menumpuk dan mengkoleksi dosa-dosa perzinaan. Jadi agama bukan hanya melarangnya, melainkan juga melaknatnya. Maka dari itu, dalam berikhtiar mencari cinta, terlebih dahulu tanyakan pada diri sendiri, alasan apa yang mendasari keinginan untuk menjalin hubungan cinta. Apabila niat anda menjalin cinta karena segera ingin menikah. Maka segerakanlah untuk mencarinya, dan saya yakin anda tidak akan sembarang pilih, pastinya anda menginginkan mendapatkan pasangan hidup yang baik. Supaya nggak salah pilih, berta’aruflah. Gunakanlah konsep islam dalam berihtiar mencari kekasih pujaan yaitu mencari pasangan hidup yang baik menurut kecantikannya, kekayaannya, keturunan yang baik, dan karena agamanya. Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan itu dikawin karena empat perkara yaitu:karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka oleh sebab itu hendaklah engkau memilih (perempuan) yang beragama, pasti engkau berbahagia (selamat)” (H.R. Bukhori. Ya. Apabila paras cantik, harta dan tahta tidak engkau temukan, maka pilihlah kekasih yang memiliki pegangan agama yang kuat, agar cinta kasih anda selalu mendapat rahmat dan hidayah-Nya. Namun bila alasan bercintamu karena ingin bersenang-senang, saya sarankan untuk mengurungkannya. Karena akan berpengaruh tidak baik pada kehidupanmu selanjutnya. Masa depanmu masih panjang, jangan kau habiskan dengan bersenang-senang dan berpacaran. Jangan menumpuk dosa, karena kurikulum pacaran semuanya mendekati zinah. Mulai pandangan, rayuan, pikiran dan perbuatan bila tercover dalam bingkai pacaran, sangat rentan dengan perbuatan zinah. “Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak adam bagiannya dari zina. Dia akan mendapatkannya, tidak bisa tidak. Maka, zinanya mata adalah dengan memandang (yang haram) dan zinanya lisan adalah dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua tindakan itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari-Muslim) Begitulah islam mengajarkan, sangat tegas, lugas dan penuh dengan kemaslahatan. Kalau anda sedang terobsesi dengan menjalin hubungan pacaran dan belum siap melangkah kejenjang pernikahan, maka tahan dan bersabarlah untuk tidak pacaran. Waduh hasrat hati semakin memuncak ingin memadu kasih? Apabila anda belum siap untuk menikah sedangkan gairah dan nafsu berkobar-kobar menuntut pemuasan, maka agama menyarankan agar berpuasa. Karena dengan berpuasa, anda akan terjaga dari godaan nafsu yang menginginkan kesenangan semata. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian sudah siap (mampu) menjalani hidup berumah tangga (suami-istri) maka menikahlah ! Sesungguhnya di balik itu, pandangan mata dan kemaluan akan lebih terjaga dan terpelihara dari perbuatan maksiat. dan barang siapa belum mampu, hendaknya ia berpuasa, karena dengan puasa itulah dirinya akan terlindungi dari kemaksiatan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Menurut Imam Ghozali: bahwa nafsu itu lebih jahat dan lebih gencar memusuhimu dari ada iblis. Ketahuilah bahwa iblis bisa kuat menguasaimu karena pertolongan nafsu dan kesenangannya. Semua ajakan nafsu adalah sumber malapetaka dan semua yang bersumber darinya adalah tipu daya belaka. Jika kau girang menuruti ajakan nafsu, tentu engkau akan celaka. Jika engkau lengah menjaganya, engkau akan tenggelam dan jika engkau lemah dan kalah melawannya, maka engkau akan digiringnya kedalam neraka. Sobat muda, ternyata memilih kekasih itu nggak boleh sembarangan, harus selektif dan penuh pertimbangan. Jangan diobral murah apalgi di tawar-tawarkan. Kalau ditawar-tawarkan jadinya kayak barang murahan. Bila perlu kamu harus jual mahal. Bukanya dibandrol dengan rupiah, maksudnya, jangan mudah jatuh cinta pada seseorang yang benar-benar belum anda kenali. Tapi dia cantik/tampan? Ahh, emangnya cantik atau tampan jaminan hidup bahagia. Cantik atau tampan kalau akhlaknya buruk, juga akan bikin ngenes batin ini. Oleh karena itu, dalam berihtiar mencari cinta, tanamkan niat yang mulia yaitu ingin menikahinya dan standar pilihan yang utama yang perlu dijadikan patokan adalah agamanya, bukan yang lain.

Minggu, 05 Januari 2014

KISAH RASULULLAH SAW & PENGEMIS BUTA YAHUDI

Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang. Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung. Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa. Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi. Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya. “Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah. “Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia. “Apakah dia wahai anakku, Aisyah?” “Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu. “Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya. Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu. “Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan. “Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah. “Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu. “Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih. “Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu. “Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati. “Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu. “Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara. “Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu. “Ya benar. Kamu tidak percaya?” “Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak. “Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. “Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu. Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..

Senin, 30 Desember 2013

Assalamu'alaikum.
Buat temen-temen. ini aku postingkan lay out buku diary kenang-kenangan PPG. mohon maaf kemarin aku denger ada yang gremeng karena fotonya tidak warna. maaf beribu-ribu maaf. waktu yang mendesak gitu, hanya 4 hari nyususn buku itu sangat berat. kalau nggak demi temen-temen, agar komunikasi nggak putus tentu saya tidak sanggup mengerjakannya. alasan itulah yang membuat aku bekerja keras membuat diary itu. jangan diukur dengan uangnya sobat. andai ada yang mamu membuatnya, tentu aku lebih suka membayar dari pada membuatnya. jadi mohon diihlaskan 25ribunya. kalau sobat pengen ngeprint data mentah bukunya. Silahkan downlod link dibawah ini: Download Button terimakasih. sahabatmu Ishaq Lamongan ( jo lupa ma q ya?)

Kamis, 29 Agustus 2013

Menjadi Sutradara Diri Sendiri



Dunia laksana panggung sandiwara. Artinya bahwa segala sesuatu yang dipentaskan dalam pangung itu akan ada endingnya. Tidak ada pertunjukan yang abadi berlama-lama tampil diatas panggung kehormatannya, karena bisa jadi penontonnya akan bosan melihatnya. Ibarat sebuah sinetron, bila ceritanya terlalu dilebar-lebarkan dari skenario awal, maka akan melibatkan banyak pemeran dan tentunya sangat menjenuhkan. Akibatnya banyak sinetron yang ditinggalkan penggemar dan tamat ditenggah jalan tanpa membawa kesan dan pesan yang begitu berarti. Begitu pula dengan kehidupan dunia ini. tidak ada yang abadi, semuanya ada waktu berakhirnya. Karena kehidupan dunia ini ada garis finishnya, haruskah kita nanti melewati garis finish itu dengan tanpa meninggalkan kesan apa-apa? Itulah yang perlu kita renungi dalam menapaki kehidupan didunia yang singkat ini. Apabila dalam kehidupan ini kita bekerja keras dan gigih menanam kebaikan, maka bisa dipastikan kita nanti akan finish dengan bekal yang menggembirakan, sebaliknya bila dalam memerankan kehidupan ini kita malas bekerja, malas beramal, ya jelas kita nanti akan finish dengan penyesalan. Sekarang kita berada pada dua pilihan. Pengen milih hidup yang finish dengan menggembirakan atau hidup yang finish dengan segudang penyesalan. Semuanya tergantung kita. Kalau ingin merubah nasib menjadi lebih baik, ya kudu berusaha hidup lebih baik, direncanakan, diterapkan, baru menanti harapan. Jangan menunggu-nunggu keajaiban datang dengan membawa kebahagiaan. Itu pikiran orang yang malas yang enggan berikhtiar. Agama tidak mengajarkan kepada umat manusia untuk bermalas-malasan melainkan agama menganjurkan supaya manusia berikhtiar merubah nasibnya agar lebih baik.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Q.S. Ar-ra’du: 11)

Sebenarnya kehidupan didunia sudah didesain secara apik oleh Sang Maha pembuat skenario. Tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang ciderai. Semuanya diciptakan dengan takaran yang sempurna. Bukan sempurna menurut penilaian manusia, tetapi sempurna menurut ukuran-Nya. Sangatlah tidak mungkin, Dzat yang maha pengasih dan penyayang pilih kasih dalam membuat skenario alur hidup hamban-Nya. yang dikasihi skenario hidupnya diistimewakan, rezekinya dilancarkan, dijauhkan dari musibah, diberi pasangan hidup yang membahagiakan, sedangkan yang dibenci skenario hidupnya disengsarakan, impossible!. 

Lantas adanya perbedaan nasib kita dengan yang lain, itu semata-mata karena diri kita sendiri yang malas merubahnya, malas berusaha, malas beramal sholih, akibatnya nasibnya menjadi berbeda dengan yang lain. Pada hal ayat diatas secara gamblang Allah menganjurkan kepada umat manusia, jika ingin berkehidupan yang layak, harus berusaha merubah nasibnya. Dengan cara apa? Ya. Dengan cara belajar, bekerja, berusaha dan berdo’a dengan beragam cara. Karena hanya dengan itu, kita dapat menggapai kebahagiaan didunia dan diakhirat nanti.

Saudaraku, yakinlah bahwa skenario Sang Maha sungguh sangat sempurna, tinggal kita mampu memerankannya dengan baik atau tidak. Jika peran kita baik, tentu kita akan mendapatkan imbalan yang baik, namun jika acting kita buruk, apalagi sampai menyalahi skenario, wahh, resiko ditanggung penumpang. Itulah tamsil kehidupan manusia dialam dunia ini. Orang yang kehidupannya mapan dan sukses, karena ia mampu memerankan skenario hidup dengan baik. Bagi yang kehidupannya seret dan susah, bisa jadi ia kurang mampu beracting dengan baik, atau mungkin ia menambahkan skenario lain yang bertolak belakang dengan skenario hidupnya, akibatnya ia susah. Karena itu, supaya kehidupan kita menjadi bermakna dan tidak melenceng dari skenario-Nya, tidak ada salahnya kita sutradarai kehidupan kita sendiri, agar kita lebih nyaman memerankan sandiwara kehidupan.

Mensutradarai diri sendiri bukanlah kita mengambil alih kekuasaan Tuhan, itu namanya takabur bin musyrik. Tetapi maksudnya adalah kita didalam memerankan sandiwara kehidupan ini didasari pada keihlasan hati dalam berakting dan tidak merasa berada dalam cengkeraman pengawasan yang menakutkan seorang sutradara. Beda lho, orang yang hidup dalam tekanan dengan yang tidak. Didunia ini banyak orang yang sholatnya nggak khusuk, zakat dan sedekahnya nggak ihlas, dikarenakan ia melaksanakannya dengan perasaan takut akan adzab dan siksa neraka. Sebaliknya orang yang sholatnya khusuk, zakat dan sedekahnya lancar, ibadah lainnya pun langgeng, karena ia melakukaannya tidak dalam paksaan, melainkan semata-mata mengharapkan ridho dari Allah, bukan berharap akan masuk surga atau dijauhkan dari neraka. Maka dari itu, supaya kita enteng melaksanakan segala aktifitas, baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama. Ada baiknya kita menjadi sutradara atas diri kita sendiri. Pedomannya skenario dari Allah, sutradaranya kita sendiri sekaligus pemerannya juga kita sendiri, sehingga dalam memerankan hidup ini kita bisa ihlas tanpa ada paksaan. Lebih cakep lagi bila kita menteladani aktingnya aktor kawakan yang telah menebarkan kedamaian diseluruh jagar raya ini yaitu Rasulullah SAW bersama keluarga, sahabat, tabiit dan tabiin yang istiqomah mengikuti jejaknya. Sebuah film kehidupan dunia ini bila digarap sesuai skenario dan diperankan dengan sungguh-sungguh, maka akan melahirkan film kehidupan yang sempurna, sehingga Sang Produser, Allah SWT tak segan-segan membayar gaji yang besar, bila perlu setiap aktor kehidupan, satu persatu akan diberi bonus yang istimewa yaitu surga yang keindahan dan kemewahannya tak ada bandingannya. Itulah enaknya menjadi sutradara diri sendiri. Menjalankan kehidupan dunia dengan tenang, menggapai kehidupan akhirat pun terasa nyaman.

Coba lihat para aktor film dalam berakting, bila tidak sesuai dengan kehendak sutradara, pasti akan dibentak-bentak dan dimarahi, sehingga ia berakting dalam suasana tegang dan berada pada bayang-bayang menakutan, sebab bila aktingnya nggak bagus, bakalan filmnya nggak layak tayang, dirinya pun nggak dapat honor. Sama halnya dengan kehidupan dunia. Bila dalam berbuat sesuatu kita merasa berada pada cengkeraman pengawasan dan ancaman, dikhawatirkan kita melakukan sesuatu bukan karena keihlasan melainkan karena tuntutan. Dan hal itu sudah dapat kita rasakan, ketika kita sholat 5 waktu  setiap hari, rata-rata kita melakukannya karena memenuhi kewajiban, bukan karena mencari ridho Tuhan. Memang dinilai masih mendingan dari pada yang tidak sholat. Tetapi kurang afdhol. Karena sejatinya Allah tidak mengharapkan sesembahan dan ritual hambanya, tetapi ketulusan hati dan ketaatan mengabdi seorang hamba itulah yang dinilai oleh-Nya.

Tuhan pun berkata: “Terserah”
Dunia memang panggung sandiwara, sehingga ada berbagai macam akting yang diperankan oleh umat manusia semenjak Nabi Adam hingga orang yang terakhir nanti. Ada yang aktingnya menjadi orang yang baik-baik, ada yang menjadi orang yang jahat, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang dermawan, ada yang kikir, ada yang iman dan ada yang kafir. Melihat fenomena tingkah laku manusia yang beragam itu, Tuhan pun berkata “terserah”.

Didalam hidup didunia ini tidak ada paksaan bagi umat manusia untuk berbuat sesuatu, hanya saja Allah memberikan rambu-rambu dan aturan, mana perbuatan yang diperbolehkan dan mana perbuatan yang dilarang. Realisasinya terserah manusia. Bagi yang taat dan mengikuti alur aturan kehidupan yang telah ditetapkan, ia akan selamat sampai ditujuan. Sedangkan bagi mereka yang sengaja menerabas aturan, resikonya ia akan mendapatkan adzab. Allah sungguh maha bijaksana, karena kebijaksanaan-Nya, Dia memberikan petunjuk dan larangan, yang secara langsung digambarkan melalui utusann-Nya yakni Rasulullah SAW yang membawa misi Alqur’an kalamullah untuk disampaikan kepada umatnya agar hidupnya tidak salah jalan. Kalau sesudah diberikan teladan dan bimbingan melalui sunnah Rasul, kemudian ada yang kehidupannya selamat, sejahtera, bahagia didunia dan akhiratnya, itu karena ia memang rajin berusaha. Tetapi kalau ada yang telah dipaparkan teladan dan bimbingan, tetapi dikehidupan dunianya tetap sengsara diakhirat masuk neraka, itu bukan karena Tuhan tak sayang hambanya “semua terserah kita” begitulah bang H. Rhoma Irama menuturkan dalam syair lagunya.

“Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". (Q.S. Kahfi: 29)

Sebenarnya ayat diatas merupakan bentuk penegasan bahwa Allah SWT tidak memaksakan hambanya untuk berbuat baik, Allah pun sebenarnya tidak membutuhkan pujian dari hambanya. Karena tanpa disembah dan dipuji pun, Dia masih tetap Raja diraja diatas alam semesta ini. Bukannya ketika manusia enggan memuji kemudian turun pamor dan kebijaksanaan-Nya. Sama sekali tidak begitu. Justru seharusnya dengan memuji itu, merupakan realisasi dan ekspresi wujud syukur seorang hamba kepada Tuhannya. Karena berkat kemurahan Tuhan yang maha kuasa, engkau diberikan rizki yang melimpah, organ tubuh yang sempurna dan nafas yang gratis dan cuma-cuma.  

Pernahkah kita merenungkan. Setiap hari nafas ini kita hembuskan dengan gratis tanpa ada pajak pungutan. Rasanya nggak terbayang seandainya nafas ini diperdagangkan. Berapa juta yang harus kita keluarkan tiap harinya demi perpanjangan nafas kita, itu pun kalau ada stoknya, kalau sampai gak ada? Bisa-bisa kita bergelimpangan mengharapkan  bantuan nafas ini. Belum lagi berapa biayanya sewa sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan dan kaki. Sungguh Allah maha pemurah, Sungguh Allah maha adil dan bijaksana, kemurahan dan kebijaksanaan-Nya adil dan merata. Meskipun begitu tak jarang diri kita ini meragukan kemurahan-Nya, mengkerdilkan kebijaksanaan-Nya hanya karena kita diuji dengan kesusahan semata. Tak malukah kita yang tiap hari menikmati dengan gratis seluruh organ tubuh buah karya cipta-Nya?

Saudaraku, sungguh Allah Maha Pemurah karena kemurahan-Nya, Ia bentangkan rizki dari ujung timur hingga ujung barat, dari atas hingga dari dasar bumi, Ia turunkan hujan dan menumbuhkan berbagai macam pepohonan yang buahnya dapat kita nikmati setiap hari. Nah, dengan kemurahan seperti itu, masihkah kita enggan mengikuti petunjuk dan perintah-Nya? Beratkah kita menghindari sesuatu yang dilarang-Nya? Jika engkau tetap dalam pendirian, enggan sholat, enggan zakat, enggan puasa dan haji, kemudian lebih menuruti hawa nafsu dan kesenangan dunia yang penuh dengan tipu daya kesesatan, mabuk-mabukan, perzinaan dan permusuhan, berjudi dan korupsi, sungguh engkau berada pada jalur kesesatan yang nyata. Melihat tingkah dan lakumu seperti itu, Tuhan pun berkata “terserah”.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” ( Q.S. Al-Isra’:7)


Sungguh hidup merupakan sebuah pilihan. Karena dihadapkan dalam sebuah pilihan, maka sama sekali tidak ada paksaan. Jika dikemudian hari ada yang berkata bahwa ia sholat, zakat, dan puasa, karena terpaksa karena takut diancam dengan siksa neraka, sungguh ibadahnya sia-sia belaka. Jika suatu saat nanti ada yang berkata bahwa ia pergi haji karena terpaksa, sebab takut melanggar rukun islam yang kelima, sungguh amat percuma dan tiada manfaatnya ibadah hajinya. Ingatlah, setiap amal perbuatan akan kembali pada pelakunya. Jika anda memilih beriman dan beramal sholih, tentu engkau akan memetik buah dari manisnya iman, tetapi bila engkau tetap ingkar. Ya. terserah!. Tidak ada yang tertukar, tidak ada yang meleset, semua perbuatan akan kembali pada dirinya sendiri.

Kamis, 09 Mei 2013

Menggapai Harapan itu Ada Ilmunya


                                                                   
Manusia hidup dialam dunia ini dikelilingi dengan harapan-harapan, karena harapan itulah manusia tetap bertahan untuk hidup. Setiap orang wajib mempunyai harapan, entah itu harapan ingin mendapat banyak rizki, ingin punya anak, ingin jadi pejabat, ingin banyak ilmu dan lain-lain. Jika tidak, maka setiap orang tidak semangat didalam menjalani hidup ini, hidupnya akan hampa, hidupnya tak bermakna dan tanpa tujuan. Harapan itu harus diwujudkan agar roda kehidupan terus berjalan. Menggapai harapan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi harus bersusah payah mempelajari dan mengejarnya. Karena setiap harapan, setiap cita-cita itu bisa terwujud manakala seseorang mengetahui cara untuk menggapainya. Setiap sesuatu itu ada ilmunya, maka gapailah harapan dan cita-citamu dengan ilmu. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالْاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بَالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Siapa yang menginginkan dunia(kebahagian dunia), maka hendaklah ia berilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat (kebahagian dihari kemudian), maka hendaklah ia belajar dan berilmu, dan siapa yang menghendaki keduanya, maka ia pun harus berilmu “.

Penyair berkata :

فَقُلْ لِمُرَجِّيْ مَعَاِليَ اْلاُمُوْرِ   *   بِغَيْرِ اِجْتِهَادٍ: رَجَوْتَ الْمُحَالاَ
Katakanlah kepada orang yang ingin menggapai hal-hal yang luhur, tanpa bersusah payah, kamu mengharapkan sesuatu yang mustahil.

Seseorang bercita-cita ingin jadi presiden, maka dia harus menguasai ilmunya, menyiapkan segala bekalnya, mulai dari mendirikan partai politik, menebar pengaruh dan menyiapkan biayanya, baru dia boleh bermimpi menjadi presiden. Seseorang ingin mempunyai keturunan, maka dia harus menikah dan mempelajari seluk beluk kehidupan rumah tangga beserta permasalahannya agar harapan mempunyai keturunan terwujud. Seseorang ingin menjadi pejabat, ingin menjadi pegawai negeri pun harus mengetahui ilmunya dan mengikuti berbagai proses yang harus dilewatinya untuk dapat lulus menjadi pegawai negeri. Seseorang yang ingin meraih hal-hal yang mulia, ia wajib tekun, ulet dalam menempuh dan mencintai jalan-jalan agama yang menjanjikan kebahagiaan abadi, meskipun pada awalnya sulit untuk menghindari berbagai macam penderitaan dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Tetapi jika ia mampu mengendalikan nafsunya dan sabar menghadapi segala kesulitan, tentu nantinya akan menuju kesebuah tempat yang mulia.

Seorang nahkoda kapal yang sedang berlabuh mengendalikan laju kapalnya dan ingin lekas sampai pada tempat yang menjadi tujuannya, tentunya ia harus memiliki kesungguhan serta semangat, termasuk harus melawan badai dan ombak yang merintangi perjalanannya, dan apabila seorang nahkoda kapal mencoba menyimpang dari rute yang mesti harus dilaluinya atau mengendalikan laju kapalnya sesuka hatinya tanpa melihat arah. Pertanyaannya kapan ia sampa ketempat tujuannya?

Muhammad Ahmad Ismail al Muqoddam berkata :

Siapa ingin dapat harus giat
Dan malas adalah kegagalan
Siapa bersusah payah
Ia akan segera mendapat puncak harapan.

Orang bijak berkata :

Jangan kira kemuliaan itu seperti kurma
Yang siap kamu makan
Karena kamu tidak akan mendapatkannya
Tanpa melewati kesabaran

Sangat beda orang yang menggapai harapan dengan ilmu dan orang yang menggapai harapannya dengan nafsu. Orang yang berilmu tentu yang bicara adalah akal dan hati dan bekerja bersama-sama sedangkan orang yang mengedepankan nafsu tentu yang bicara adalah hati dan mengesampingkan otak dan akalnya. Misalnya ada dua orang yang sama-sama ingin mewujudkan harapannya menjadi seorang pegawai negeri sipil, namun cara mereka berbeda. si A dalam menggapai harapan dan cita-citanya menggunakan ilmu, sedangkan si B mengedepankan nafsunya. Apa yang terjadi. Si A mengikuti segala proses yang ditentukan pemerintah untuk jadi PNS dengan cara mengikuti test tulis test lisan, mengadu kecerdasan otak dengan bersaing dengan ribuan pesaingnya hingga lulus jadi PNS. Sedangkan si B yang mengedepannkan nafsunya ingin memiliki jabatan itu harus melewati pintu belakang, pintu-pintu yang tidak dibenarkan oleh undang-undang baik Negara maupun agama. Suap sanan suap sini, berbagai cara yang tidak baik pun dilakukan. Kalaupun seandainya keduanya sama-sama berhasilpun, pasti aka nada perbedaan cara pandang dan kinerjannya. Bisa jadi si A dengaan segalaa potensi dan keilmuan yang dimilikinya hingga lolos jadi PNS akan mempunyai kebanggaan atau rasa syukur yang menghiasi jiwanya, sudut pandang daan kinerjannya pun berorientasi pada prestasi kerja. Lain halnya dengan si B, dia lolos jadi PNS melalui pintu belakang, jalan pintas yang penting berhasil dan lolos, meskipun harus mengeluarkan kocek puluhan juta rupiah, akan berpengaruh pada sudut pandang dan kinerjanya. Biasanya orang yang sukses karena karena sudah mengeluarkan uang banyak, ujung-ujungnya bukan prestasi kerja yang dicari daan didahulukan melainkan gimana caranya semua dana yang dikeluarkan dahulu bisa kembali modal. Lah kalau orang-orang dinegeri ini seperti itu, alamat hancur kepribadian bangsa ini.

Belajarlah dan tuntutlah ilmu setinggi mungkin agar anda dapat menggapai setiap harapan yang menjadi cita-citamu. Orang berilmu itu enak kok. Orang berilmu itu laksana burung yang terbang tinggi diangkasa yang tak takut memandang kebawah karena mempunyai keseimbangan daya pikir, ego, kecerdasan dan kekuatan. Orang berilmu itu akan selalu berdiri tegak walaupun zaman selalu bergonta ganti dan hanya orang berilmu pulalah yang akan membawa dirinya selamat dalam perjalanan mencari ridha-Nya.

Tak ada kata terlambat untuk belajar, pun tak ada kata terlambat untuk menggapai harapan. Tumbuhkan harapan disetiap helai keluarnya nafasmu. Harapan tidak harus berupa suatu pangkat atau jabatan, atau berbentuk sesuatu benda yang mewah atau istimewa. Harapan yang paling istimewa dan berharga yang harus selalu kita tumbuhkan dalam diri ini adalah tumbuh suburnya iman dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Orang yang mendambakan kesuburan iman didalam hatinya adalah sesempurnanya nikmat yang melebihi dari segala kekayaan yang pernah anda miliki. Apalah artinya kesuksesan bila hatimu gelap tanpa arah, apalah artinya jabatan, kemewahan jika hatimu  keras sekeras batu yang tiada mempunyai ketenangan dan hanya menjadi hunian tumpukan amarah dan sampah kemaksiatan.

Selasa, 25 September 2012

KEHIDUPAN BELUM BERHENTI

“ Seberapapun jauh anda gagal tidaklah bermasalah, tetapi yang penting seberapa sering anda bangkit untuk mencobanya bangkit kembali ”.
Ada seorang wanita sebut saja Rina yang terhimpit masalah yang sangat berat, dia adalah ibu rumah tangga yang setiap hari disibukkan dengan urusan rumah tangganya, memasak untuk anak dan suami, bersih-bersih rumah, memandikan anak, memberi makan anak, dan mempunyai sampingan jual nasi pecel kecil-kecilan disekitar tempat tinggalnya, intihnya dia ini wanita yang sangat sibuklah. Sedangkan sang suami bekerja sebagai karyawan disebuah perusahaan swasta. Kurang lebih lima belas tahun berumah tangga mereka dikaruniai 4 orang anak, anak yang pertama sudah kelas 3 SMP, anak yang kedua kelas 5 SD dan yang dua lainnya masih kecil. Dalam membina rumah tangganya Rina mengalami cobaan yang bertubi-tubi mulai dari soal ekonomi hingga masalah suami dan anak-anaknya. Gaji suaminya yang minim membuat Rina harus montang manting membantu bekerja untuk menyuplai dana buat kebutuhan keluarga. Disamping itu Rina juga mempunyai beban batin yang amat dalam karena sudah ekonomi yang serba sulit ditambah lagi suaminya harus serong sama perempuan lain. Wah, makin bertambah lagi cobaan bagi rumah tangganya Rina. Namun Rina tetap tabah menghadapinya meskipun sudah berulang kali mengingatkan suaminya tapi tidak ada hasilnya. Rupanya kian hari cobaan Rina tidaklah surut malah makin bertambah, dengan musibah yang menimpa anaknya. Petang hari ketika pulang dari sekolah anaknya yang baru kelas 3 SMP mengaku telah diperkosa orang yang tak dikenalnya hingga akhirnya harus hamil. Bagi Rina, andai bunuh diri itu bukan perbuatan yang dilarang, tentu dia sudah membunuh dirinya agar terhindar dari masalah yang kian berat menimpa keluarganya.

Namun tidaklah seperti itu yang dilakukan oleh Rina. Dia tetap berusaha sabar karena dia yakin bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah SWT, cobaan yang dialaminya dianggap sebagai cobaan bagi ketaatan dirinya pada sang maha kuasa, bukan dianggapnya sebagai hukuman Allah bagi dirinya. Menghadapi kesulitan yang begitu berat dalam rumah tangganya, ditambah lagi suaminya yang selingkuh dengan orang lain, Rina memutuskan untuk menuntut cerai dan cerai pun harus terjadi. Ditengah kesendiriannya mengurusi anak-anaknya tanpa suami, Rina harus jungkir balik menafkahi kebutuhan anak-anaknya yang dibantu oleh anaknya yang harus putus sekolah karena hamil. Rina tetap yakin semua ini terjadi atas kehendak Allah SWT. Pasti akan ada hikmah atas semua ini, ia tidak menyerah terhadap takdir, karena dia faham bahwa takdir seseorang tiada yang tahu, mungkin hari ini Allah SWT mentakdirkan diri dan anak-anaknya harus menanggung beban hidup yang amat berat, namun kehidupan belum berhenti, dan manusia tidak tahu takdir apa yang akan diterimanya kedepan nanti, maka Rina bangkit untuk terus berusaha, ada Allah SWT bersamaku, Ada Allah yang membantuku, Ada Allah yang mencukupiku, dengan ucapan bismillah Rina bangkit melawan kesulitan hidupnya. Dia yakin bahwa kesulitan yang ia hadapi adalah kehendak Allah dan Allah SWT tahu bahwa itu semua masih dalam ukuran kesanggupan hamba-Nya. Sebagaimana firmannya:

“ ....Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan “.(Q.S. At Thalaq: 7)

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Q.S. Al-Baqarah:286)

Kata-kata bijak mengatakan:
“ Seberapapun jauh anda gagal tidaklah bermasalah, tetapi yang penting seberapa sering anda bangkit untuk mencobanya bangkit kembali ”.

Dari selembar kertas koran yang Rina gunakan sebagai pembungkus nasi pecel dagangannya tertulis kata-kata bijak yang membangun motivasi bagi dirinya, Rina semakin termotivasi, ia yakin dirinya masih ada peluang untuk bangkit kembali, ia semakin giat berusaha, puasa senin-kamis dilaksanakannya, tengah malam bangun untuk tahajud dan bersimpuh pada Dzat penguasa jagat, ia memohon pertolongan dan jalan keluar dari permasalahannya, habis tahajud ia langsung mempersiapkan dagangannya sambil menunggu waktu shubuh tiba. Alhamdulillah jualan nasi pecelnya lancar dan ia pun tak lupa menyempatkan waktunya untuk sholat dhuha, ia gemar sholat dhuha karena dhuha tempatnya dia mengadu terhadap Rabbnya atas segala persoalan hidupnya.

Waktu kian berlalu, akhirnya do’a Rina dikabulkan oleh Allah SWT. Karena anaknya yang menjadi korban pemerkosaan ditolong oleh seorang ustadz, untuk menutupi aib anaknya, ustadz tadi dengan ihlas apa adanya untuk menikahinya. Bukan main rasa syukur Rina atas semua ini, Rina yakin ini adalah jawaban dari Allah SWT atas do’a-do’a yang ia panjatkan pada-Nya. Kehidupan Rina dan anak-anaknya Alhamdulillah berangsur-angsur membaik, berawal dari jualan nasi pecel kecil-kecilan disamping emperan rumahnya, kini Rina sudah bisa membuka Depot sederhana yang memiliki omzet penjualan yang lumayan menjanjikan, hingga Rina beserta anak dan menantunya bisa memenuhi panggilan Rabbnya untuk melakukan ibadah umrah bersama.

Subhanallah, beginilah kisah orang yang kuat, ulet, sabar dalam berusaha, tiada lupa ia berdo’a dan mengharapkan pertolongan Rabbnya, wal hasil Allah SWT membukakan jalan keluar yang tak pernah ia sangka-sangka pada akhirnya.